Luang Pho Sothorn merupakan salah satu arca Buddha yang paling dihormati di Thailand. Namanya sangat erat dengan Provinsi Chachoengsao, terutama dengan Wat Sothorn Wararam Worawihan, tempat arca suci tersebut berada.
Bagi masyarakat Thailand, Luang Pho Sothorn bukan sekadar sebuah arca Buddha kuno. Selama ratusan tahun, tempat ini menjadi tujuan umat yang datang untuk berdoa, memberikan penghormatan dan memohon berkah.
Di kawasan kuil tersebut juga berdiri Maha Vihara Luang Pho Sothorn, sebuah bangunan besar yang secara khusus dibangun untuk menempatkan arca replika Luang Pho Sothorn dan memberikan tempat yang lebih luas bagi masyarakat untuk melakukan penghormatan.
Sejarah Luang Pho Sothorn
Menurut catatan sejarah, Luang Pho Sothorn telah berada di Wat Sothorn sejak sekitar tahun 1770.
Asal-usul arca ini juga memiliki legenda yang sangat terkenal di Thailand.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, dahulu terdapat tiga arca Buddha yang dianggap bersaudara. Ketiganya dipercaya berada di wilayah utara Thailand.
Pada suatu masa, ketika terjadi kekacauan di daerah tersebut, ketiga arca Buddha dipercaya mengapung mengikuti aliran sungai menuju wilayah tengah Thailand.
Ketiga arca tersebut kemudian berpisah.
Arca yang paling besar dipercaya mengapung menuju wilayah Sungai Mae Klong dan kemudian dikenal sebagai Luang Pho Ban Laem.
Arca yang lebih kecil dipercaya menuju kawasan Bang Phli dan kemudian dikenal sebagai Luang Pho To.
Sementara arca yang berada di tengah dipercaya mengikuti aliran Sungai Bang Pakong hingga tiba di kawasan Chachoengsao.
Arca inilah yang kemudian dikenal sebagai Luang Pho Sothorn.
Cerita tersebut merupakan legenda yang telah diwariskan oleh masyarakat selama beberapa generasi. Sementara itu, penelitian sejarah dan seni terhadap arca memberikan informasi yang berbeda mengenai usia dan teknik pembuatannya.
Karena itu, legenda dan hasil penelitian sebaiknya dipahami sebagai dua bagian yang berbeda dalam sejarah Luang Pho Sothorn.
Kisah Pengangkatan dari Sungai
Bagian paling terkenal dari legenda Luang Pho Sothorn adalah kisah ketika arca tersebut ditemukan mengapung di Sungai Bang Pakong.
Menurut cerita masyarakat, penduduk setempat mencoba membawa arca tersebut ke daratan. Namun berbagai usaha yang dilakukan tidak berhasil.
Kemudian dilakukan sebuah upacara dan arca tersebut berhasil diangkat dari sungai.
Sejak saat itu, arca tersebut ditempatkan di sebuah kuil yang pada masa sebelumnya dikenal sebagai Wat Hong.
Dalam sejarahnya, nama kuil tersebut mengalami beberapa perubahan sebelum akhirnya dikenal sebagai Wat Sothorn.
Pemerintah Provinsi Chachoengsao sampai sekarang masih menyelenggarakan upacara untuk mengenang peristiwa pengangkatan Luang Pho Sothorn dari Sungai Bang Pakong. Pada tahun 2024, pemerintah daerah menyelenggarakan peringatan 254 tahun peristiwa tersebut.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya kisah tersebut dalam tradisi dan identitas budaya masyarakat Chachoengsao.
Wat Sothorn dan Luang Pho Sothorn
Wat Sothorn merupakan salah satu kuil bersejarah di Chachoengsao.
Menurut informasi dari Pemerintah Provinsi Chachoengsao, kuil tersebut diperkirakan telah berdiri sejak akhir periode Ayutthaya.
Nama awalnya berkaitan dengan sebuah tiang yang pada bagian atasnya terdapat bentuk burung hong. Seiring waktu, tiang tersebut mengalami kerusakan dan nama kuil kemudian berubah beberapa kali.
Pada akhirnya nama kuil menjadi Wat Sothorn, mengikuti nama Buddha suci yang berada di dalamnya.
Pada 8 Agustus 1958, kuil tersebut memperoleh status sebagai kuil kerajaan tingkat tiga dengan nama Wat Sothorn Wararam Worawihan.
Sejak dahulu hingga sekarang, kuil ini menjadi salah satu pusat keagamaan dan ziarah yang penting di Provinsi Chachoengsao.
Bentuk dan Seni Arca Luang Pho Sothorn
Luang Pho Sothorn digambarkan sebagai Buddha yang duduk dalam posisi meditasi.
Arca tersebut memiliki wajah yang relatif bulat, alis melengkung, mata kecil yang sedikit menunduk, serta ekspresi wajah yang tenang.
Tinggi arca sekitar 198 sentimeter, sedangkan lebar pangkuannya sekitar 165 sentimeter.
Salah satu hal yang menarik dari arca ini adalah teknik pembuatannya.
Hasil penelitian dan pekerjaan konservasi menunjukkan bahwa arca Luang Pho Sothorn dibuat dari batu pasir yang terdiri dari 11 bagian. Bagian-bagian tersebut kemudian disatukan dan permukaannya diberi lapisan pelindung serta emas.
Dari segi gaya seni, bentuk arca tersebut dikaitkan dengan gaya U Thong generasi kedua pada periode Ayutthaya awal, sekitar abad ke-15.
Karakter wajah, bentuk kepala, bagian sinar di atas kepala dan bentuk kain jubah menjadi beberapa unsur yang digunakan dalam penelitian untuk menentukan karakter seni arca tersebut.
Dengan demikian, Luang Pho Sothorn memiliki nilai yang tidak hanya berkaitan dengan keagamaan, tetapi juga dengan sejarah perkembangan seni pahat Buddha di Thailand.
Kepercayaan Masyarakat terhadap Luang Pho Sothorn
Selama beberapa generasi, Luang Pho Sothorn dikenal sebagai Buddha suci yang memiliki tempat khusus di hati masyarakat Thailand.
Banyak umat datang dari berbagai daerah untuk memberikan penghormatan dan berdoa.
Keyakinan terhadap kesucian Luang Pho Sothorn juga telah tercatat dalam sejarah Thailand.
Departemen Seni Rupa Thailand mencatat bahwa sejak masa pemerintahan Raja Chulalongkorn, masyarakat telah datang ke Wat Sothorn untuk memberikan penghormatan kepada Luang Pho Sothorn. Catatan perjalanan kerajaan bahkan menyebutkan bahwa tempat tersebut ramai dikunjungi masyarakat dan terdapat pedagang perlengkapan persembahan di sekitar kuil.
Tradisi penghormatan tersebut terus berlangsung hingga sekarang.
Maha Vihara Luang Pho Sothorn
Seiring bertambahnya jumlah umat yang datang, dibangunlah sebuah bangunan khusus yang dikenal sebagai Maha Vihara Luang Pho Sothorn.
Bangunan ini dibuat untuk menggantikan bangunan sementara yang sebelumnya digunakan untuk menempatkan arca replika Luang Pho Sothorn.
Tujuan pembangunannya adalah menyediakan tempat yang lebih layak dan luas bagi umat dari berbagai daerah yang datang untuk memberikan penghormatan kepada Luang Pho Sothorn.
Maha Vihara ini bukan tempat yang menggantikan kedudukan arca Luang Pho Sothorn yang asli.
Bangunan tersebut digunakan untuk menempatkan arca replika, sehingga umat dapat datang dan melakukan penghormatan di tempat yang lebih luas.
Arsitektur Maha Vihara
Maha Vihara Luang Pho Sothorn merupakan bangunan beton bertulang yang terdiri dari tiga lantai.
Total luas bangunan sekitar 2.543 meter persegi.
Bangunan utama memiliki panjang sekitar 66,60 meter dan lebar sekitar 40,20 meter.
Arsitekturnya memadukan gaya Thailand dengan bentuk arsitektur modern.
Bangunan utama terhubung dengan bagian vihara di keempat sisinya sehingga membentuk rancangan dengan empat arah utama.
Bagian atap dan dekorasinya mengambil unsur arsitektur tradisional Thailand, sementara struktur bangunannya menggunakan teknik konstruksi modern.
Dekorasi menggunakan berbagai material seperti plester dekoratif, mosaik, kaca dan ornamen berwarna emas.
Pada bagian depan dari keempat arah bangunan terdapat representasi Luang Pho Sothorn.
Bagian dalam bangunan menggunakan marmer putih dengan dekorasi bunga teratai. Area dasar tempat arca ditempatkan juga dirancang dengan unsur dekoratif yang berkaitan dengan gambaran bintang dan alam semesta.
Biaya Pembangunan Maha Vihara
Pembangunan Maha Vihara Luang Pho Sothorn merupakan proyek besar yang membutuhkan biaya yang cukup besar.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh organisasi perempuan nasional Thailand, total biaya pembangunan mencapai 125 juta baht.
Pembangunan tersebut menunjukkan besarnya perhatian dan dukungan masyarakat terhadap Luang Pho Sothorn serta Wat Sothorn Wararam Worawihan.
Bangunan ini kemudian menjadi salah satu bagian penting dari kompleks keagamaan di kawasan tersebut.
Luang Pho Sothorn sebagai Warisan Seni dan Budaya
Luang Pho Sothorn memiliki posisi yang unik dalam budaya Thailand.
Di satu sisi, masyarakat mengenalnya sebagai Buddha suci yang menjadi tempat berdoa dan memberikan penghormatan.
Di sisi lain, arca tersebut juga memiliki nilai sejarah dan seni yang penting.
Departemen Seni Rupa Thailand mencatat bahwa Luang Pho Sothorn telah didaftarkan dalam lembaran resmi kerajaan pada 18 November 1992.
Pendaftaran tersebut berkaitan dengan pentingnya sejarah, usia, bentuk seni, serta kedudukan Luang Pho Sothorn dalam kehidupan masyarakat Chachoengsao dan umat Buddha di Thailand.
Luang Pho Sothorn Saat Ini
Hingga sekarang, Wat Sothorn Wararam Worawihan tetap menjadi salah satu tempat ziarah penting di Chachoengsao.
Nama Luang Pho Sothorn juga telah menjadi bagian dari identitas kota tersebut.
Setiap tahun, ribuan umat dan pengunjung datang untuk memberikan penghormatan.
Bagi sebagian masyarakat, perjalanan menuju Wat Sothorn merupakan tradisi keluarga yang telah dilakukan sejak generasi sebelumnya.
Ada yang datang untuk berdoa, ada yang datang untuk memberikan persembahan, dan ada pula yang datang karena ingin mengenal sejarah serta warisan budaya Thailand secara langsung.
Penutup
Luang Pho Sothorn merupakan salah satu contoh bagaimana sejarah, seni, tradisi dan keyakinan masyarakat dapat bertemu dalam satu tempat.
Legenda mengenai tiga arca Buddha yang mengapung di sungai telah diwariskan selama beberapa generasi dan menjadi bagian penting dari cerita masyarakat Chachoengsao.
Pada saat yang sama, penelitian terhadap arca menunjukkan bahwa Luang Pho Sothorn memiliki nilai sejarah seni yang sangat penting dan berkaitan dengan perkembangan seni Buddha pada masa Ayutthaya.
Maha Vihara Luang Pho Sothorn kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan tempat suci ini.
Dengan arsitektur yang megah dan fungsi sebagai tempat penghormatan bagi arca replika Luang Pho Sothorn, bangunan tersebut melengkapi kompleks Wat Sothorn dan menjadi salah satu simbol keagamaan yang terkenal di Chachoengsao.
Bagi dunia kolektor Thai amulet, memahami Luang Pho Sothorn tidak hanya berarti mengenal sebuah nama yang terkenal.
Memahami sejarahnya berarti mengenal hubungan antara arca Buddha, kuil, legenda, seni Thailand dan keyakinan masyarakat yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

