HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Ajarn Seksan Phrommanut

HHengAmulet3 menit baca
Ajarn Seksan

Penerus Tradisi Thung Mon, Surin

Ajarn Seksan Phrommanut adalah nama yang selalu muncul ketika orang membicarakan kelanjutan tradisi Luang Pu Hong Phrommapanyo di kawasan Thung Mon, Provinsi Surin. Di kalangan pengikut dan pemerhati benda pusaka Thailand, beliau juga dikenal dengan sebutan Ruesi Ariyamuni.

Berbeda dengan Luang Pu Hong, Ajarn Seksan bukan bhikkhu. Beliau adalah tokoh awam yang meneruskan dan menjaga sebagian tradisi spiritual yang diwariskan gurunya sekaligus keluarganya. Sejumlah sumber Thailand menyebut beliau sebagai cucu laki-laki Luang Pu Hong.

Hubungan dengan Luang Pu Hong

Nama Ajarn Seksan banyak ditemukan dalam tulisan mengenai benda pusaka dan tradisi spiritual Luang Pu Hong. Dalam pemberitaan tentang kawasan pemakaman dan warisan Luang Pu Hong di Thung Mon, beliau disebut sebagai anggota keluarga yang ikut memberikan keterangan mengenai persoalan kawasan tersebut.

Hubungan itu bukan sekadar hubungan darah. Dalam berbagai sumber yang membahas benda pusaka garis Luang Pu Hong, Ajarn Seksan disebut sebagai orang yang meneruskan ilmu dan tata cara yang berkaitan dengan gurunya.

Pengawas pembuatan benda pusaka

Peran yang paling jelas tercatat adalah keterlibatan beliau dalam pembuatan dan pengelolaan benda pusaka di Thung Mon.

Pada akhir 2011, ketika para murid menyiapkan benda pusaka untuk memperingati usia Luang Pu Hong yang menginjak delapan siklus kehidupan, rencana itu dibicarakan lebih dulu dengan Ajarn Seksan. Beliau menyetujui rencana tersebut lalu membantu mengoordinasikan pengerjaannya, mulai dari bentuk, bahan, jumlah produksi, sampai metode pembuatan.

Salah satu proyek itu menghasilkan patung perwujudan Luang Pu Hong dan sejumlah benda pusaka lain. Pengerjaannya memakai pengecoran tradisional dengan cetakan tanah liat dan logam yang dirancang mengikuti tata cara lama. Karena itu nama Ajarn Seksan kerap ditemukan dalam dokumentasi benda pusaka dari periode akhir kehidupan Luang Pu Hong maupun yang dibuat setelah beliau wafat.

Mantra dan wicha garis Luang Pu Hong

Ajarn Seksan juga dikenal lewat tulisan mengenai wicha dan mantra yang berasal dari tradisi Luang Pu Hong. Salah satu tulisan yang beredar di komunitas Buddhis Thailand mencantumkan nama beliau sebagai sumber materi mengenai mantra inti dalam tradisi itu.

Menurut penjelasan yang dikaitkan dengan beliau, mantra tersebut tidak hanya dipakai saat pemberkatan benda pusaka, tetapi juga berkaitan dengan latihan batin, perlindungan, dan doa sehari-hari.

Ajaran yang diteruskan

Nama Ajarn Seksan kembali muncul sebagai sumber tulisan mengenai nasihat Luang Pu Hong. Di sana beliau menceritakan pesan-pesan yang pernah diterimanya langsung dari sang guru.

Nasihat itu justru berbicara tentang hal-hal sederhana: rajin bekerja dan tidak menunda pekerjaan, menjaga kebersihan, berbicara dengan sopan, tidak mudah marah, menjaga sila, serta bekerja dengan penuh kesadaran.

Kejujuran menempati tempat khusus. Seseorang harus berusaha menepati perkataannya; bila tidak mampu melakukan sesuatu, lebih baik tidak berjanji. Luang Pu Hong juga mengingatkan agar orang tidak hanya melihat kesalahan orang lain, tetapi lebih dahulu melihat kekurangan dirinya sendiri.

Ajarn Seksan menyampaikan bahwa beliau berusaha menjalankan nasihat itu dalam kehidupan sehari-hari, meski mengakui tidak selalu mudah menjalankan semuanya dengan sempurna.

Ruesi Ariyamuni

Dalam perkembangan berikutnya, nama Ajarn Seksan muncul dengan sebutan Ruesi Ariyamuni. Dalam berbagai sumber mengenai benda pusaka garis Luang Pu Hong, nama itu disebut sebagai nama lain dari Ajarn Seksan Phrommanut.

Beliau beberapa kali disebut ikut dalam upacara pemberkatan benda pusaka bersama guru spiritual dan bhikkhu dari Surin serta daerah lain. Pada dokumentasi sebuah upacara tahun 2022, beliau disebut membawa benda pusaka untuk dihubungkan lebih dulu dengan peninggalan dan tempat persemayaman Luang Pu Hong sebelum ritual pemberkatan dilanjutkan.

Yang tercatat dan yang tidak

Biografi guru-guru Thailand biasanya memuat tanggal lahir, penahbisan, daftar guru, perjalanan thudong, hingga tahun wafat. Catatan mengenai kehidupan pribadi Ajarn Seksan jauh lebih terbatas.

Yang terdokumentasi justru perannya: anggota keluarga Luang Pu Hong, orang yang dekat dengan beliau, pengawas pembuatan benda pusaka, dan penyampai ajaran serta pengetahuan dari tradisi tersebut. Sebagian sumber komunitas menyebut beliau penerus ilmu Luang Pu Hong. Karena sebutan itu berasal dari kalangan pengikut dan pedagang benda pusaka, istilah tersebut lebih tepat dibaca sebagai pengakuan komunitas, bukan jabatan resmi dalam struktur Sangha Thailand.

Bagi para kolektor, nama Ajarn Seksan menjadi penting terutama saat membahas benda pusaka periode akhir Luang Pu Hong dan kelanjutan tradisi Thung Mon setelah beliau wafat.