HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Ajarn Thiam Boonthiam Siewjaiuea

Ajarn Thiam

Guru spiritual dan seniman sakral dari Wat Nang

Ajarn Thiam adalah guru spiritual dan praktisi ilmu tradisional Thailand yang dikenal di kalangan penggemar benda pusaka, tato sakral, mantra, dan seni pertapa. Namanya sangat erat dengan kawasan Wat Nang di Bangkok.

Berbeda dengan banyak tokoh terkenal dalam dunia benda pusaka Thailand yang merupakan biksu, Ajarn Thiam adalah seorang umat awam yang menjalani kehidupan sebagai guru spiritual dan praktisi ilmu tradisional. Perjalanan hidupnya berkaitan erat dengan seni membuat patung pertapa, tato sakral, aksara kuno, ritual perlindungan, serta pembuatan berbagai benda pusaka.

Bagi pengikut dan kolektor, sejarah beliau menjadi semakin menarik karena hubungan guru-murid yang dimilikinya dengan beberapa tokoh penting dalam tradisi ilmu tradisional Thailand.

Masa awal

Ketertarikan Ajarn Thiam terhadap ilmu tradisional sudah dimulai sejak usia muda. Menurut sejumlah sumber Thailand, ayahnya seorang tabib tradisional yang membantu masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya; dalam praktik pengobatan itu sang ayah juga menggunakan pengetahuan mengenai mantra dan ilmu tradisional yang pada masa itu masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dari lingkungan keluarganya itulah beliau mulai mengenal dunia pengobatan tradisional dan ilmu spiritual. Seiring bertambahnya usia, ketertarikannya berkembang ke seni membuat patung pertapa.

Beliau belajar kepada Ajarn But Pradapchae. Pada masa awal, Ajarn Thiam membantu gurunya menyiapkan tanah dan bahan untuk membuat patung pertapa. Dari sanalah beliau memahami bahwa pembuatan patung pertapa bukan sekadar pekerjaan seni: dalam tradisi yang dipelajarinya, prosesnya berkaitan dengan tata cara ritual, penghormatan kepada guru, dan pengetahuan mengenai bahan-bahan tertentu.

Patung pertapa yang pertama

Salah satu kisah yang sering diceritakan mengenai masa mudanya adalah ketika beliau membuat patung pertapa untuk pertama kali — sebuah patung yang kemudian dikenal sebagai Kalai Kot.

Menurut cerita yang berkembang di kalangan pengikutnya, Ajarn Thiam pada awalnya membuat patung itu tanpa terlebih dahulu menjalani proses penerimaan ilmu secara lengkap dari gurunya. Setelah mengalami sebuah kejadian yang menurut tradisi dianggap memiliki makna spiritual, beliau kemudian memahami pentingnya hubungan antara guru dan murid.

Kisah ini merupakan bagian dari tradisi di lingkungan pengikut Ajarn Thiam, dan lebih tepat dipahami sebagai cerita spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Belajar tato sakral

Selain membuat patung pertapa, Ajarn Thiam dikenal sebagai praktisi tato sakral. Dalam perjalanan belajarnya beliau menerima pengetahuan mengenai tato dari Ajarn Thong Talat Phlu.

Guru penting lainnya adalah Luang Pu Sai dari Wat Bang Rak Yai, Nonthaburi. Menurut sumber Thailand, dari Luang Pu Sai beliau menerima pengetahuan mengenai aksara sakral dan berbagai formula tradisional; salah satu tradisi aksara yang kemudian dikaitkan dengan Ajarn Thiam adalah aksara Na Ruecha. Hubungan itu juga terlihat dalam dokumentasi lama yang memperlihatkan Ajarn Thong Talat Phlu, Luang Pu Sai, dan Ajarn Thiam dalam satu foto.

Karena itu, dalam dunia kolektor, karya Ajarn Thiam sering dilihat bukan hanya dari gambar atau bentuk fisiknya, tetapi juga dari susunan aksara dan tradisi yang berada di baliknya.

Wat Nang dan Wat Sala Khruen

Nama Ajarn Thiam semakin dikenal melalui hubungannya dengan Wat Nang dan kawasan Wat Sala Khruen di Bangkok. Tempat tinggal sekaligus tempat praktiknya berada tidak jauh dari kawasan tersebut, dan di sanalah beliau menerima murid, membuat patung pertapa, melakukan ritual, serta memberikan tato sakral.

Menurut laporan sumber Thailand, pembuatan patung pertapa menjadi salah satu kegiatan utamanya, dan peminat harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan patung buatannya.

Salah satu ciri khas prosesnya adalah metode tradisional: patung dibuat dengan tangan dan peralatan sederhana, dengan alas berupa papan kayu bulat yang diputar secara manual, dan setiap patung harus diselesaikan dalam satu hari. Bagi Ajarn Thiam, proses itu bukan sekadar membuat karya seni — patung pertapa dipandang sebagai benda penghormatan, sehingga pengerjaannya harus dilakukan dengan penuh perhatian.

Bahan tradisional

Salah satu hal yang menarik perhatian kolektor adalah bahan tradisional yang digunakan. Menurut sumber Thailand, tanah yang dipakai sebagai salah satu bahan utama berasal dari kawasan Wat Khao Cha Ngok, dan terdapat pula bahan yang dalam tradisi benda pusaka dikenal sebagai tanah dari tujuh pemakaman.

Bahan-bahan itu dicampur dengan tanah dari sarang rayap putih, tanah keramat, serta berbagai tumbuhan yang dalam tradisi Thailand dikaitkan dengan kemenangan, kemakmuran, dan keberuntungan. Semuanya diproses mengikuti tradisi yang beliau terima dari para gurunya.

Keterangan mengenai bahan-bahan tersebut merupakan bagian dari tradisi pembuatan benda pusaka dan kepercayaan spiritual masyarakat Thailand; khasiat spiritualnya bukan sesuatu yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Berbagai jenis patung pertapa

Ajarn Thiam membuat beberapa jenis patung pertapa, dan dalam tradisi yang berkembang di sekitarnya jenis pertapa dapat disesuaikan dengan tujuan orang yang melakukan penghormatan.

Salah satu yang cukup dikenal adalah Kalai Kot, yang dalam tradisi benda pusaka dikaitkan dengan kemakmuran dan kekayaan. Ada pula jenis pertapa yang lebih sering dikaitkan dengan orang yang mempelajari ilmu pengetahuan, bekerja dengan tulisan, atau berprofesi di bidang pendidikan.

Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa dalam budaya benda pusaka Thailand sebuah patung tidak hanya dinilai dari bentuk fisiknya: nama, karakter, cerita, dan garis ilmu yang menyertainya juga menjadi bagian dari identitasnya.

Kisah patung Ai Daeng

Salah satu karya yang memiliki cerita tersendiri adalah patung Ai Daeng, yang berkaitan dengan kisah Mae Nak dari kawasan Phra Khanong. Menurut pemberitaan sumber Thailand, patung lama Ai Daeng rusak setelah sebuah pohon besar di kawasan kuil tumbang dan menimpanya, dan Ajarn Thiam kemudian dipercaya membuat patung penggantinya.

Ada cerita menarik mengenai proses pembuatannya: ketika patung yang telah selesai diletakkan di depan rumah untuk dikeringkan, warga sekitar yang belum mengetahui duduk perkaranya mengira Ajarn Thiam sedang menidurkan seorang anak kecil di depan rumah.

Benda pusaka generasi awal

Selain patung pertapa, Ajarn Thiam juga membuat berbagai benda pusaka. Salah satu yang cukup dikenal adalah patung Phor Kae generasi pertama yang dibuat sekitar tahun 1977, berukuran kecil sehingga mudah dibawa — kurang lebih seukuran amulet Phra Somdej.

Menurut catatan mengenai benda tersebut, salah satu bahan pentingnya berasal dari bubuk yang dikaitkan dengan Luang Pu Sai dari Wat Bang Rak Yai. Pada masa itu benda tersebut diberikan kepada murid dan orang-orang dekat, belum diproduksi secara komersial seperti banyak benda pusaka sekarang; harganya pun relatif sederhana, sekitar 36 baht. Seiring waktu, benda generasi awal itu semakin dicari kolektor karena usia, sejarah, dan hubungannya dengan Ajarn Thiam.

Ada pula kisah yang melekat pada generasi pertama tersebut: beberapa murid pada masa itu mengikis sedikit bagian belakang benda pusaka dan mencampurkan bubuknya ke dalam minuman. Ajarn Thiam kemudian mengetahuinya dan mengingatkan agar benda pusaka tidak digunakan secara sembarangan. Cerita ini merupakan tradisi lisan di kalangan murid dan kolektor, bukan keterangan ilmiah mengenai khasiat bubuknya.

Tato sakral dan ritual Na Na Thong

Ajarn Thiam juga dikenal luas karena kegiatan tato sakral dan ritual Na Na Thong. Rumah sekaligus tempat praktiknya menjadi tempat yang didatangi masyarakat yang ingin mendapatkan tato sakral maupun mengikuti ritual tradisional, dan menurut laporan sumber Thailand kegiatan itu telah berlangsung bertahun-tahun.

Dalam perkembangannya, anggota keluarga dan murid beliau ikut membantu meneruskan kegiatan tersebut — salah satunya Ajarn Praphan Klin Kasorn yang disebut membantu dalam kegiatan tato. Dengan demikian tradisi tato yang dibawa Ajarn Thiam tidak berhenti pada satu generasi.

Membantu kegiatan kuil

Ajarn Thiam pernah terlibat dalam penggalangan dana untuk pembangunan dan pemeliharaan kuil. Salah satu contohnya adalah pembuatan benda pusaka Thao Wessuwan untuk Wat Bang Phraek, yang dibuat sebagai bagian dari kegiatan penggalangan dana untuk fasilitas kuil. Selain membuat benda pusaka, beliau juga melakukan ritual dan kegiatan tato sakral yang hasilnya digunakan untuk membantu pihak kuil.

Ciri khas karya dan warisannya

Bagi kolektor, karya Ajarn Thiam memiliki beberapa karakter yang menonjol: penggunaan aksara dan simbol tradisional dari garis ilmu yang diterimanya, kedekatan dengan tradisi tato sakral dan patung pertapa, proses pembuatan yang masih manual, serta bahan tradisional yang dipakai. Namun yang paling penting adalah sejarah di baliknya — tahun pembuatan, pembuatnya, guru yang menjadi sumber ilmunya, ritual yang dilakukan, serta asal-usul benda tersebut.

Nama Ajarn Thiam masih dikenal hingga sekarang. Dokumentasi pada 2026 mencatat peringatan usia 84 tahun yang berkaitan dengan beliau, dilaksanakan pada 17 April 2026 di Wat Sala Khruen, lengkap dengan benda pusaka yang dibuat sebagai bagian dari peringatan tersebut.

Ajarn Thiam menempati posisi yang cukup unik dalam sejarah benda pusaka Thailand: bukan seorang biksu, melainkan guru awam yang mempelajari berbagai tradisi dari guru-guru generasi sebelumnya. Hubungannya dengan Ajarn Thong Talat Phlu dan terutama Luang Pu Sai menjadi bagian penting dari garis keilmuannya, sementara patung pertapa, benda pusaka generasi awal, dan tato sakral menjadi karya yang membuat namanya dikenal.

Di balik setiap karya terdapat cerita mengenai guru, murid, dan proses panjang mempelajari ilmu tradisional. Karena itu, ketika mempelajari benda pusaka Ajarn Thiam, sejarah guru, tahun pembuatan, bahan, ritual, dan asal-usulnya sama pentingnya dengan kondisi fisik bendanya.

Catatan sumber

Tulisan ini disusun berdasarkan perbandingan beberapa sumber dan dokumentasi dari Thailand mengenai perjalanan hidup, guru, karya, patung pertapa, tato sakral, dan benda pusaka Ajarn Thiam.

Cerita mengenai pengalaman spiritual, kejadian gaib, dan khasiat benda pusaka ditulis sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan yang berkembang di kalangan pengikut serta kolektor, bukan sebagai pembuktian ilmiah. Untuk penelitian benda pusaka, keterangan seperti tahun pembuatan, bahan, guru, jumlah produksi, bentuk cetakan, dan dokumentasi upacara tetap perlu diperiksa pada sumber khusus tiap edisi.