HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Chao Khun Udom Watthanamongkol

Chao Khun Udom

Guru dan pembangun dari Rayong

Chao Khun Udom Watthanamongkol dikenal luas di kalangan umat Buddha Thailand melalui kiprahnya membangun Wat Tham Watthanamongkol di Provinsi Rayong.

Beliau bukan hanya bhikkhu yang mengajarkan Dhamma dan meditasi, tetapi juga pembimbing bagi para pelajar, taruna militer, anggota kepolisian, dan masyarakat umum. Hidupnya banyak dicurahkan untuk pendidikan moral, latihan meditasi, pengembangan tempat praktik Dhamma, dan kegiatan sosial.

Nama beliau sangat erat dengan Wat Tham Watthanamongkol — kawasan vihara dan tempat praktik Dhamma yang dibangun di tengah hutan dan perbukitan yang dahulu belum tertata.

Masa kecil di Bangkok

Chao Khun Udom lahir dengan nama Suwat Duangbanyam pada 1 September 1954 di Bangkok, salah satu dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Chan Duangbanyam dan ibunya Prayong Duangbanyam.

Sejak muda beliau sudah dekat dengan kehidupan kebhikkhuan. Ketertarikan itu membawanya memasuki kehidupan monastik ketika masih remaja.

Dua kali menjadi samanera

Pada 1967, ketika berusia sekitar 13 tahun, Suwat untuk pertama kalinya ditahbiskan sebagai samanera di Wat Awut Wiksitaram, Bangkok, di bawah bimbingan Phra Sitthisarason — bhikkhu senior yang berperan penting dalam pendidikannya.

Setelah sekitar tiga tahun, beliau kembali ke kehidupan awam untuk melanjutkan sekolah. Namun jalan kebhikkhuan tetap dekat dengan dirinya. Pada 1970 beliau kembali menjadi samanera di tempat yang sama, kali ini di bawah bimbingan guru yang berbeda, dan mulai lebih serius mendalami kehidupan monastik serta pendidikan Buddhis.

Pengalaman sejak usia muda inilah yang menjadi dasar perjalanan panjangnya dalam kehidupan keagamaan.

Upasampada dan pendidikan Dhamma

Pada 22 Juni 1974 beliau menerima upasampada sebagai bhikkhu di Wat Awut Wiksitaram, dengan Phra Ratchatham Sophon sebagai guru penahbis.

Setelah menjadi bhikkhu, hidupnya berpusat pada pendidikan Dhamma, disiplin monastik, meditasi, dan pelayanan kepada masyarakat. Beliau menempuh pendidikan dasar di Bangkok, pendidikan Pali, serta pendidikan Dhamma hingga tingkat menengah, sambil aktif membantu kegiatan vihara dan membimbing para bhikkhu baru.

Pembimbing pelajar dan taruna

Kemampuan mengajar membuat Chao Khun Udom dipercaya terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pembinaan moral. Beliau pernah menjadi pembimbing kegiatan Buddhis di lingkungan sekolah militer, memberikan pendidikan meditasi dan etika kepada pelajar, serta membina siswa dari berbagai institusi militer dan kepolisian. Hubungannya cukup dekat dengan pembinaan taruna dari empat cabang angkatan bersenjata Thailand.

Sejak 1980-an beliau aktif menjadi pembimbing dalam program penahbisan massal selama liburan musim panas bagi pelajar, tentara, dan polisi. Kegiatan itu tidak berhenti pada ritual penahbisan, tetapi juga membentuk disiplin, tanggung jawab, moral, dan pemahaman dasar tentang ajaran Buddha.

Gelar kehormatan

Pengabdian beliau mendapat pengakuan dalam sangha Thailand. Pada 1985 beliau menerima posisi Phra Palat, disusul Phra Khru Palat pada 1988.

Pada 1992 beliau menerima gelar kehormatan Phra Udom Watthanamongkol, dan pada 12 Agustus 1992 menerima kipas kehormatan kerajaan dalam sebuah upacara di Bangkok. Sejak itu masyarakat mengenalnya sebagai Chao Khun Udom atau Phra Udom Watthanamongkol.

Khao Kamphaeng, sebelum menjadi vihara

Bagian terpenting perjalanan hidup Chao Khun Udom adalah berdirinya Wat Tham Watthanamongkol di Rayong.

Sebelum menjadi vihara, kawasan itu dikenal sebagai Khao Kamphaeng: perbukitan yang masih dipenuhi hutan dan memiliki banyak gua. Sekitar 1995 Chao Khun Udom datang ke sana untuk beristirahat, dan melihat suasananya tenang serta cocok untuk tempat praktik Dhamma.

Menurut catatan sejarah vihara, kawasan itu memiliki sekitar 30 gua dengan berbagai ukuran, di atas lahan sekitar 500 rai yang sebelumnya dimiliki seorang umat dari Pattaya.

Membangun dari kawasan hutan

Pada 1996 Chao Khun Udom meninggalkan Wat Awut Wiksitaram dan datang mengembangkan kawasan tersebut bersama beberapa bhikkhu dari Wat Yan Sangwararam.

Pekerjaannya tidak ringan. Kawasan itu masih berupa hutan dan lahan yang belum tertata, gua-guanya pun masih alami. Sedikit demi sedikit kawasan dibersihkan dan ditata, dan beliau mengurus izin penggunaan lahan sesuai ketentuan sebelum pembangunan dimulai.

Nama Wat Tham Watthanamongkol kemudian digunakan untuk vihara tersebut. Masyarakat sekitar juga menyebutnya Wat Tham Chao Khun atau Wat Chao Khun karena hubungan yang sangat kuat antara vihara itu dan pendirinya.

Pembangunannya sangat menekankan keharmonisan dengan lingkungan. Gua, pepohonan, dan bukit tetap dipertahankan sebagai bagian penting kawasan, bukan dihilangkan.

Tempat praktik bagi para taruna

Wat Tham Watthanamongkol berkembang menjadi salah satu tempat praktik Dhamma bagi taruna dari empat cabang angkatan bersenjata Thailand.

Para peserta tidak sekadar datang berziarah. Mereka menjalani kehidupan disiplin layaknya seorang bhikkhu: bangun pagi, puja pagi, menerima makanan melalui pindapata, belajar Dhamma, bermeditasi, dan melakukan puja malam. Chao Khun Udom menjadi salah satu guru yang membimbing mereka — bukan hanya soal teori agama Buddha, tetapi juga disiplin, kesederhanaan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter.

Ajaran yang sering ditekankan

Tema yang paling sering beliau tekankan adalah penghormatan kepada orang tua, terutama kepada ibu. Menurut beliau, ibu adalah salah satu orang yang paling besar jasanya dalam kehidupan seorang anak; karena itu seorang anak sepatutnya mengetahui jasa orang tuanya, menjaga hubungan baik, dan membalasnya melalui perbuatan yang baik.

Bagi Chao Khun Udom, praktik Dhamma tidak berhenti ketika duduk bermeditasi di dalam vihara. Dhamma harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari melalui perilaku, rasa hormat, tanggung jawab, dan cara seseorang memperlakukan orang lain.

Penghormatan kepada tradisi guru meditasi

Dalam perjalanan hidupnya, Chao Khun Udom memiliki hubungan dengan berbagai guru dan bhikkhu senior, serta perhatian besar terhadap tradisi meditasi dan kehidupan pertapaan.

Salah satu perjalanan yang tercatat adalah ketika beliau dan para murid pergi ke wilayah timur laut Thailand untuk menghormati dan mengambil relik para guru meditasi terkenal, termasuk Luang Pu Khao Analayo dan Luang Pu Fan Ajaro.

Vihara yang menyatu dengan alam

Selama lebih dari dua dekade Chao Khun Udom terus mengembangkan kawasan vihara. Beliau tidak hanya membangun bangunan keagamaan, tetapi juga menanam pohon dan mempertahankan kawasan hutan agar tetap menjadi bagian dari suasana vihara.

Hasilnya, Wat Tham Watthanamongkol memiliki dua fungsi sekaligus: tempat praktik Dhamma dan meditasi, sekaligus kawasan alam yang dikunjungi masyarakat.

Salah satu bagian penting kawasan itu adalah gua tempat penyimpanan relik Buddha. Menurut keterangan Pemerintah Provinsi Rayong, relik tersebut ditempatkan dalam sebuah stupa di dalam kawasan gua pada 2001.

Wafat dan warisan

Chao Khun Udom wafat pada 17 September 2021 pukul 13.59. Upacara kremasi kerajaan dilaksanakan pada 26 September 2021.

Warisan terbesar beliau bukan sekadar bangunan vihara atau benda-benda yang berkaitan dengan namanya, melainkan keberadaan Wat Tham Watthanamongkol sebagai tempat praktik Dhamma, meditasi, dan pendidikan moral — serta banyaknya generasi muda yang pernah beliau bimbing.

Beliau datang ke kawasan itu ketika tempatnya masih berupa hutan dan perbukitan yang belum tertata. Dengan waktu, kerja keras, dan dukungan umat, kawasan tersebut berubah menjadi pusat praktik Dhamma yang dikenal di Provinsi Rayong. Pesan beliau tentang disiplin, meditasi, penghormatan kepada orang tua, dan menjalankan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari tetap dikenang para muridnya.