Luang Phi Liang

Guru sak yant dari Wat Chom Ket
Luang Phi Liang adalah bhikkhu yang dikenal di kalangan pencinta sak yant dan benda bertuah Thailand, khususnya di wilayah Ayutthaya. Beliau dikenal memiliki pengetahuan dalam bidang aksara kuno, ilmu yant, pembuatan takrut, serta berbagai ilmu tradisional yang diwariskan dari sejumlah guru.
Namanya sangat erat dengan Wat Chom Ket di Distrik Bang Pahan, Provinsi Phra Nakhon Si Ayutthaya. Di lingkungan murid dan penggemar sak yant, beliau dikenal sebagai guru utama perguruan sak yant Wat Chom Ket.
Masa awal kehidupan
Menurut catatan yang beredar di dunia benda pusaka Thailand, Luang Phi Liang memiliki nama lahir Jirapong dan dikenal dengan nama panggilan Oleang. Beliau lahir pada 10 Februari 1979 dan berasal dari wilayah Ayutthaya.
Keterangan mengenai masa kecilnya tidak sebanyak kisah para guru besar generasi sebelumnya. Karena itu kisah hidupnya lebih banyak dikenal sejak masa sebelum dan sesudah memasuki kehidupan monastik, terutama ketika beliau mulai serius mempelajari sak yant dan ilmu tradisional. Sejak masih menjadi umat awam beliau sudah tertarik pada seni aksara, yant, dan ilmu tradisional — ketertarikan yang semakin kuat setelah menjadi bhikkhu.
Memasuki kehidupan bhikkhu
Luang Phi Liang ditahbiskan menjadi bhikkhu pada 17 Juni 2001 di Wat Samphao Lom, Ayutthaya, dengan Phra Kru Phichit sebagai guru penahbis. Setelah itu beliau mulai mempelajari ilmu sak yant secara lebih serius.
Salah satu guru awal yang berpengaruh adalah Ajarn Thong dari Wat Samphao Lom. Dari sanalah beliau memperdalam pengetahuan mengenai yant, aksara kuno, dan tradisi sak yant. Perjalanan belajar itu kemudian membawanya ke Wat Chom Ket.
Berguru kepada banyak guru
Salah satu hal yang menarik dari perjalanan Luang Phi Liang adalah banyaknya guru tempat beliau belajar.
Ilmu sak yant dipelajari dari Ajarn Yot dari Wat Lot Chong, sedangkan ilmu metta maha niyom dari Ajarn Tang dari Wat Chom Ket. Pembuatan takrut dan ritual air suci dipelajari dari Ajarn Phat dari Wat Pho Kaew, sementara takrut Chatri dari Luang Ta Lan dari Wat Ban Ma. Ilmu takrut Dok Mai Thong diperoleh dari Luang Pho Phun dari Wat Ban Paen, dan pengetahuan mengenai aksara Buddha dari Luang Pho Huan dari Wat Phutthaisawan.
Selain dari kalangan bhikkhu, beliau juga belajar beberapa ilmu tradisional dari guru awam, termasuk cara menangani gangguan ilmu hitam. Dalam pembuatan bekas kerang suci, beliau disebut belajar dari Luang Pho Suep dari Wat Sing, Provinsi Nakhon Pathom.
Rangkaian guru tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan beliau tidak berasal dari satu garis ilmu saja: berbagai cabang dipelajari dari guru yang berbeda, lalu berkembang menjadi gaya khasnya sendiri di Wat Chom Ket.
Wat Chom Ket
Wat Chom Ket berada di Distrik Bang Pahan, Provinsi Phra Nakhon Si Ayutthaya, dan dipercaya telah berdiri sejak sekitar tahun 1769.
Di dalamnya terdapat patung Buddha utama dalam posisi meditasi yang dikenal masyarakat setempat sebagai Luang Pho To. Patung itu dibuat pada 1915 dan menjadi salah satu objek penghormatan warga sekitar.
Wat Chom Ket bukan vihara besar yang dikenal seluruh Thailand, tetapi tempat ini semakin dikenal di kalangan penggemar sak yant karena kegiatan Luang Phi Liang, yang kemudian dipandang sebagai salah satu tokoh penting tradisi sak yant di vihara tersebut.
Keahlian dalam sak yant
Nama Luang Phi Liang paling banyak dikaitkan dengan seni sak yant. Salah satu yant yang paling dikenal dari beliau adalah motif cicak, yang kemudian dibuat bukan hanya sebagai tato tetapi juga dalam berbagai benda bertuah.
Di kalangan muridnya, motif cicak dipercaya berhubungan dengan metta maha niyom: daya tarik, hubungan baik dengan orang lain, serta kemudahan dalam berinteraksi.
Luang Phi Liang sendiri menjelaskan bahwa tujuan sak yant tidak semata-mata berkaitan dengan kekebalan atau kemampuan menghadapi senjata. Menurut beliau, sebagian besar yant yang digunakan di Wat Chom Ket lebih menekankan metta maha niyom serta perlindungan dan keselamatan; unsur kekebalan merupakan bagian yang lebih kecil.
Sak yant sebagai pintu masuk Dhamma
Salah satu ciri khas Luang Phi Liang adalah caranya mendekati masyarakat. Beliau melihat bahwa tidak semua orang langsung tertarik datang ke vihara untuk belajar Dhamma, sehingga beliau memakai sesuatu yang memang diminati masyarakat — yant dan benda bertuah — sebagai pintu masuk.
Menurut pandangan beliau, ketika seseorang datang untuk berbicara tentang yant, aksara, atau benda bertuah, percakapan itu dapat berkembang menjadi pembicaraan tentang ajaran Buddha. Dengan begitu ketertarikan pada tradisi sak yant menjadi awal bagi seseorang untuk lebih dekat dengan vihara dan kemudian mengenal Dhamma.
Aturan bagi murid
Luang Phi Liang juga memberi perhatian pada perilaku para muridnya. Di perguruan Wat Chom Ket, murid dianjurkan menghormati Buddha, Dhamma, Sangha, orang tua, serta guru.
Salah satu aturan yang cukup dikenal adalah larangan minum minuman beralkohol pada hari Uposatha. Menurut penjelasan beliau, menjalankan lima sila setiap hari tentu paling baik, tetapi tidak semua orang mampu menjalankannya dengan sempurna; aturan pada hari Uposatha dapat menjadi latihan untuk mengurangi kebiasaan itu secara bertahap. Murid juga dilarang menjalin hubungan dengan pasangan orang lain.
Dengan demikian, sak yant menurut tradisi Wat Chom Ket tidak hanya berbicara mengenai gambar dan aksara pada tubuh: ada aturan moral yang menjadi bagian dari kehidupan para murid.
Benda bertuah pertama
Benda bertuah pertama yang dibuat Luang Phi Liang adalah Takrut Khu Cheewit dan Takrut Kan Kratham. Keduanya dibuat berdasarkan kitab kuno yang diwariskan dari Luang Pu La, mantan kepala vihara Wat Chom Ket.
Setelah itu beliau membuat berbagai benda lain: cincin model sarung pisau, cicak, cincin cicak, loket, lebah, takrut Chatri, yant Hanuman, serta berbagai bentuk takrut lainnya. Pembuatannya berkembang dari tahun ke tahun dan menjadi bagian penting dari tradisi Wat Chom Ket.
Di antara semuanya, cicak adalah yang paling terkenal. Motif itu hadir sebagai sak yant sekaligus sebagai benda bertuah berupa ukiran, cincin, dan benda logam; cincin cicak dari Luang Phi Liang bahkan disebut sebagai salah satu benda yang paling dikenal di kalangan penggemar benda bertuah Ayutthaya. Tradisi tersebut tidak hanya berasal dari bentuk cicaknya, tetapi juga dari aksara dan ritual yang menyertainya.
Selain cicak, beliau dikenal menghasilkan berbagai takrut. Beberapa yang tercatat antara lain Takrut Khu Cheewit, Takrut Kan Kratham, Takrut Chatri, Takrut Maha Chai, Takrut Maha Rut, Takrut Si Klo, serta Takrut Dok Mai Thong. Beliau juga membuat benda berbentuk Hanuman, kepala pertapa, cincin, loket, dan bentuk lainnya — banyak di antaranya dibuat dalam rangka Wai Khru atau untuk mengumpulkan dana bagi kegiatan keagamaan dan pemeliharaan vihara.
Tradisi Wai Khru
Luang Phi Liang mulai menyelenggarakan upacara Wai Khru di Wat Chom Ket pada 2005. Pada upacara pertama itu dibuat benda bertuah berbentuk cicak berwarna hitam untuk para murid yang hadir.
Sejak itu Wai Khru dilaksanakan setiap tahun dengan benda bertuah yang berbeda-beda bagi para peserta, dan tradisi ini menjadi salah satu kegiatan penting dalam komunitas murid beliau. Pada salah satu pelaksanaan yang diberitakan media Thailand, jumlah murid yang datang mencapai ribuan orang — gambaran besarnya jaringan murid tradisi sak yant Wat Chom Ket.
Dalam komunitas itu, hubungan persaudaraan ikut ditekankan: murid dari satu perguruan dipandang sebagai saudara, yang lebih tua sebagai kakak dan yang lebih muda sebagai adik. Karena itu sak yant tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang melekat pada tubuh, tetapi juga sebagai hubungan sosial yang terbentuk di antara para murid.
Benda bertuah dan pemeliharaan vihara
Bagi Luang Phi Liang, pembuatan benda bertuah tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan pribadi para murid. Dana dari kegiatan sak yant dan pemujaan benda bertuah juga digunakan untuk membantu pemeliharaan serta renovasi Wat Chom Ket.
Dalam salah satu laporan Thailand disebutkan bahwa dana dari biaya guru sak yant dan kegiatan pemujaan benda bertuah dipakai untuk berbagai pekerjaan renovasi vihara; salah satu proyek yang pernah dikaitkan dengan kegiatan tersebut adalah renovasi bangunan kayu tradisional yang telah berusia puluhan tahun.
Thao Wessuwan di Wat Chom Ket
Nama Luang Phi Liang juga dikaitkan dengan pembangunan patung Thao Wessuwan di Wat Chom Ket. Menurut laporan Siam Commercial Bank, beliau pernah menceritakan bahwa gagasan membuat patung itu muncul setelah beliau mendengar suara menjelang fajar yang mengarahkan agar patung tersebut dibuat di dalam vihara.
Bentuk yang dipilih adalah sosok raksasa duduk, berkaitan dengan keberadaan patung-patung raksasa tua di sekitar bangunan utama vihara. Dalam tradisi setempat, patung itu berfungsi sebagai simbol perlindungan dan penjagaan kawasan vihara.
Warisan ilmu Luang Phi Liang
Perjalanan Luang Phi Liang memperlihatkan bagaimana tradisi sak yant Thailand berkembang melalui hubungan guru dan murid. Beliau tidak hanya mempelajari satu jenis ilmu, tetapi berguru kepada sejumlah tokoh dengan keahlian berbeda: sak yant, metta maha niyom, takrut, air suci, aksara Buddha, hingga ilmu tradisional lainnya. Pengetahuan itu kemudian berkembang di Wat Chom Ket dan diwariskan kepada para murid.
Yang menarik dari perjalanan beliau bukan hanya benda-benda tersebut. Bagi Luang Phi Liang, yant juga dapat menjadi jalan untuk membawa masyarakat lebih dekat kepada vihara dan Dhamma. Melalui pengajaran, sak yant, upacara Wai Khru, serta kegiatan pemeliharaan vihara, beliau membangun komunitas murid yang berkumpul bukan semata karena ketertarikan pada benda bertuah, tetapi juga karena hubungan guru, murid, dan persaudaraan.
