HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Luang Pho Koon Pisuttho

Luang Pho Koon

Guru spiritual yang paling dikenal di Isan

Luang Pho Koon adalah salah satu guru spiritual Thailand yang paling dikenal dan dihormati, terutama di wilayah Isan, Thailand Timur Laut. Beliau dikenal sebagai biksu yang sederhana, dekat dengan masyarakat, tekun dalam praktik Dhamma, serta memiliki kepedulian besar terhadap pendidikan, rumah sakit, dan kegiatan sosial.

Nama beliau sangat erat dengan Wat Ban Rai di Distrik Dan Khun Thot, Provinsi Nakhon Ratchasima. Selama hidupnya, Luang Pho Koon tidak hanya dikenal sebagai guru meditasi dan pembuat benda pusaka, tetapi juga sebagai biksu yang banyak membantu masyarakat melalui kegiatan sosial dan amal.

Karena pengabdiannya yang panjang, beliau kemudian dikenal dengan gelar Phra Thep Witthayakhom. Bagi banyak umat Buddha Thailand, nama Luang Pho Koon menjadi bagian penting dari sejarah tradisi guru spiritual Thailand pada abad ke-20.

Masa kecil di Ban Rai

Luang Pho Koon lahir pada 4 Oktober 1923 di Ban Rai, Distrik Dan Khun Thot, Provinsi Nakhon Ratchasima, dari keluarga petani sederhana. Ayahnya bernama Boon Chatphonkhrang dan ibunya Thong Khao Chatphonkhrang. Beliau anak pertama dan memiliki dua saudara perempuan.

Kehidupan keluarga mereka pada masa itu sangat sederhana, dan daerah tempat tinggalnya masih jauh dari perkembangan seperti sekarang. Ketika berusia sekitar sebelas tahun, ibunya meninggal dunia, dan ayahnya kemudian menitipkan beliau di Wat Ban Rai agar dapat belajar kepada para biksu di sana.

Di Wat Ban Rai, Luang Pho Koon mulai memperoleh pendidikan dasar yang pada masa itu belum mudah didapat anak-anak di daerah pedesaan. Beliau belajar membaca dan menulis, termasuk bahasa Thailand dan bahasa Khmer kuno yang banyak dipakai dalam lingkungan pendidikan agama pada masa tersebut, dan mulai mengenal berbagai pengetahuan tradisional yang diajarkan para guru di sana. Beberapa guru yang membimbingnya pada masa muda antara lain Phra Ajarn Chueam, Phra Ajarn Chai, dan Phra Ajarn Lee.

Memasuki kehidupan monastik

Pada usia sekitar 21 tahun, Luang Pho Koon memutuskan memasuki kehidupan monastik. Beliau ditahbiskan menjadi biksu pada 5 Mei 1944 di Wat Thanon Hak Yai, wilayah Dan Khun Thot, dan menerima nama monastik Pisuttho (Paritsuttho).

Pada awalnya beliau sebenarnya tidak berencana menjalani kehidupan sebagai biksu dalam waktu yang sangat panjang, tetapi perjalanan spiritual dan pengalaman hidupnya kemudian mengubah keputusan itu.

Setelah ditahbiskan, beliau mulai mempelajari Vinaya, ajaran Buddha, dan praktik meditasi secara lebih serius. Salah satu guru yang memberi pengaruh besar dalam perjalanan praktiknya adalah Luang Pho Daeng dari Wat Nong Pho; dari beliau, Luang Pho Koon mempelajari meditasi dan latihan batin.

Meditasi dan perjalanan dhutanga

Luang Pho Koon dikenal sebagai biksu yang tekun menjalani praktik. Pada masa awal kehidupannya sebagai biksu, beliau melakukan perjalanan dhutanga ke berbagai daerah untuk memperdalam meditasi, melatih kesabaran, dan mengembangkan ketenangan batin.

Beliau tidak hanya berjalan di wilayah Nakhon Ratchasima, tetapi juga ke daerah yang jauh dan sulit dijangkau; beberapa catatan biografi bahkan menyebut perjalanan dhutanga beliau sampai ke wilayah Laos dan Kamboja.

Kehidupan seperti itu sangat berbeda dari kehidupan masyarakat biasa: hidup sederhana, menempuh perjalanan panjang, dan menghadapi berbagai kesulitan di hutan serta daerah terpencil. Praktik tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pembentukan karakter beliau sebagai guru spiritual.

Kembali ke Wat Ban Rai

Sekitar tahun 1952, Luang Pho Koon kembali ke Wat Ban Rai dan mulai memberikan perhatian besar terhadap perkembangan vihara serta masyarakat di sekitarnya. Pada saat itu Wat Ban Rai masih jauh dari kondisi seperti yang dikenal sekarang.

Beliau membantu memperbaiki dan mengembangkan fasilitas vihara, sekaligus memberi perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Bagi beliau, kehidupan seorang biksu bukan hanya mengenai praktik pribadi, tetapi juga bagaimana seseorang dapat memberikan manfaat kepada orang lain — pemikiran yang kemudian menjadi ciri utama kehidupan Luang Pho Koon.

Kegiatan sosial

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat datang meminta nasihat dan bantuan kepada beliau, dan nama Luang Pho Koon dikenal sebagai biksu yang sangat aktif dalam kegiatan sosial.

Dana yang diterima dari umat dan para pendukungnya banyak digunakan untuk membantu pembangunan fasilitas umum: rumah sakit, sekolah, jalan, jembatan, fasilitas keagamaan, dan berbagai kegiatan amal lainnya. Catatan mengenai sumbangan beliau memperlihatkan bantuan dalam jumlah yang sangat besar selama bertahun-tahun; salah satu catatan yang dihimpun dari buku donasi memperlihatkan berbagai bantuan sejak tahun 1970-an, termasuk pembangunan rumah sakit dan fasilitas pendidikan.

Thai PBS juga mencatat bahwa Luang Pho Koon dikenal aktif membantu pembangunan rumah sakit, sekolah, dan berbagai fasilitas umum — tidak hanya di Thailand, tetapi juga dalam kegiatan sosial di Laos. Karena itu beliau dikenal bukan hanya sebagai guru spiritual, tetapi juga sebagai biksu yang berperan besar dalam pembangunan masyarakat di Isan.

Wat Ban Rai dan para pengikutnya

Nama Luang Pho Koon semakin erat dengan Wat Ban Rai. Umat dari berbagai daerah datang untuk bertemu beliau, meminta nasihat, dan mengikuti ajaran yang disampaikannya.

Gaya hidupnya tetap sederhana meskipun semakin banyak orang mengenalnya. Beliau juga dikenal memiliki gaya bicara yang sangat khas: sederhana dan langsung, membuat banyak orang merasa dekat. Tidak seperti sebagian tokoh agama yang menggunakan bahasa yang sangat formal, Luang Pho Koon sering berbicara dengan bahasa sehari-hari, dan kesederhanaan itu menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali dari sosok beliau. Beliau pun sering terlihat duduk berjongkok sambil berbicara langsung kepada orang-orang yang datang menemuinya.

Benda pusaka Luang Pho Koon

Luang Pho Koon juga sangat terkenal dalam dunia benda pusaka Thailand. Beliau mulai membuat berbagai benda suci sejak masih relatif muda dalam kehidupan monastiknya; salah satu bentuk awal yang dikenal dalam sejarah pembuatannya adalah takrut.

Seiring bertambahnya jumlah umat dan pengikut, semakin banyak jenis benda pusaka dibuat di bawah nama beliau, dan benda-benda itu menjadi sangat populer di Thailand serta dikenal kolektor dari berbagai negara. Bagi para penggemarnya, benda tersebut tidak hanya dilihat sebagai koleksi, tetapi juga sebagai simbol penghormatan kepada guru dan pengingat untuk menjalani kehidupan dengan keyakinan, disiplin, dan perbuatan baik.

Karena jumlah yang dibuat selama puluhan tahun sangat banyak, setiap periode pembuatan memiliki karakteristik dan sejarahnya sendiri — dan karena itulah benda pusaka Luang Pho Koon menjadi salah satu bidang paling luas dalam dunia koleksi Thailand.

Gelar keagamaan

Pengabdian Luang Pho Koon mendapat pengakuan resmi dalam lingkungan Sangha Thailand. Pada 12 Agustus 1992 beliau menerima gelar Phra Yanawitthayakhom, lalu pada 10 Juni 1996 gelar Phra Ratchawitthayakhom, dan pada 12 Agustus 2004 gelar Phra Thep Witthayakhom — gelar terakhir inilah yang sering dipakai dalam sumber resmi dan pemberitaan Thailand.

Meskipun memiliki gelar keagamaan yang tinggi, beliau tetap dikenal masyarakat dengan nama yang lebih akrab: Luang Pho Koon.

Wasiat menyumbangkan tubuh

Salah satu bagian paling penting dari kehidupan beliau terjadi ketika beliau membuat keputusan mengenai tubuhnya setelah meninggal dunia. Pada 25 Juni 2000, Luang Pho Koon menulis surat wasiat yang menyatakan keinginannya menyumbangkan tubuhnya kepada Universitas Khon Kaen untuk kepentingan pendidikan kedokteran — tubuhnya diserahkan kepada Fakultas Kedokteran untuk digunakan dalam pendidikan dan penelitian anatomi.

Keputusan itu memperlihatkan pandangan beliau mengenai kehidupan dan kematian: tubuh manusia setelah meninggal masih dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Beliau tidak menginginkan tubuhnya hanya menjadi objek penghormatan, tetapi ingin tubuh itu digunakan untuk membantu generasi berikutnya mempelajari ilmu kedokteran.

Keputusan ini memberi pengaruh besar kepada masyarakat Thailand: setelah keinginan beliau diketahui, jumlah orang yang menyatakan kesediaan menyumbangkan tubuh mereka untuk pendidikan kedokteran meningkat secara signifikan.

Wafat

Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya kondisi kesehatan Luang Pho Koon semakin menurun dan beliau beberapa kali harus mendapatkan perawatan medis. Pada 2015 kondisinya kembali memburuk, dan beliau wafat pada 16 Mei 2015 di Rumah Sakit Maharaj Nakhon Ratchasima, pada usia 91 tahun setelah menjalani kehidupan monastik sekitar 71 tahun.

Kabar wafatnya mendapat perhatian besar dari masyarakat Thailand, dan ribuan umat datang memberikan penghormatan terakhir. Namun sesuai wasiat yang telah dibuat sebelumnya, tubuh beliau kemudian diserahkan kepada Universitas Khon Kaen untuk kepentingan pendidikan kedokteran.

Menjadi guru besar setelah wafat

Wasiat itu benar-benar dilaksanakan. Tubuh beliau digunakan sebagai bahan pendidikan anatomi bagi mahasiswa kedokteran Universitas Khon Kaen, sehingga para mahasiswa dapat mempelajari anatomi tubuh manusia secara langsung. Tubuh Luang Pho Koon kemudian dikenal sebagai salah satu guru besar anatomi yang sangat dihormati oleh para mahasiswa kedokteran; pihak universitas menjelaskan bahwa tubuh beliau digunakan dalam proses pendidikan selama periode tertentu sesuai tujuan yang ditetapkan dalam wasiatnya.

Bagi banyak orang, tindakan tersebut menjadi bagian terakhir dari pengabdian Luang Pho Koon kepada masyarakat: selama hidup beliau membantu melalui kegiatan sosial, dan setelah wafat beliau kembali memberi manfaat melalui pendidikan kedokteran.

Warisan Luang Pho Koon

Warisan Luang Pho Koon tidak hanya berupa benda pusaka yang sampai sekarang masih dikoleksi banyak orang. Warisan yang lebih besar adalah kehidupan dan pengabdiannya kepada masyarakat: Wat Ban Rai sebagai pusat penting dalam sejarah kehidupan keagamaannya, berbagai kegiatan sosial, pembangunan fasilitas umum, dan dukungan terhadap pendidikan.

Yang paling kuat adalah pesan mengenai memberi kepada orang lain. Bagi Luang Pho Koon, kehidupan seorang manusia seharusnya tidak hanya digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri; apa yang dimiliki dapat digunakan untuk membantu sesama. Pandangan itu terlihat jelas dari kegiatan amal yang beliau lakukan sepanjang hidup dan dari keputusan untuk menyumbangkan tubuhnya setelah meninggal.