HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Luang Pho Phina Piyatharo

HHengAmulet6 menit baca
Luang Pho Phina

Guru spiritual dari Wat Sanom Lao

Luang Pho Phina Piyatharo adalah guru spiritual Thailand yang dikenal luas di kalangan pencinta benda pusaka dan pengikut tradisi Buddha Thai. Namanya sangat erat dengan Wat Sanom Lao di Provinsi Saraburi, tempat beliau menghabiskan bagian penting dari kehidupan monastiknya.

Beliau dikenal sebagai bhikkhu yang hidup sederhana, tekun dalam meditasi dan praktik pertapaan. Bagian paling menarik dari kisah hidupnya adalah perjalanan panjang sebagai bhikkhu pengembara: beliau tidak menetap di satu tempat, tetapi berjalan untuk belajar, bermeditasi, dan bertemu berbagai guru terkenal dalam tradisi hutan Thailand.

Masa kecil di Uthai Thani

Luang Pho Phina lahir pada 1 Maret 1913 di Ban Hua Lamphong, Distrik Thap Than, Provinsi Uthai Thani, dengan nama lahir Thawai Hansarikij.

Sejak kecil beliau mengalami masalah kesehatan yang cukup berat. Menurut kisah yang dicatat beberapa sumber Thailand, ketika masih kecil beliau sering mengalami kejang setelah menangis. Keluarga mencari berbagai pengobatan tanpa hasil yang memuaskan, lalu membawa beliau menemui Luang Pho Sin, seorang bhikkhu dari Wat Nong Tao.

Dalam kisah yang diceritakan turun-temurun, Luang Pho Sin kemudian mengganti nama beliau menjadi Phina. Setelah penggantian nama itu keluarga melihat kondisinya berangsur membaik, dan kisah tersebut selalu diceritakan ketika membahas masa kecil beliau.

Memasuki kehidupan monastik

Ketika ayahnya meninggal dunia, Phina memilih memasuki kehidupan monastik. Beliau menjalani kehidupan sebagai samanera terlebih dahulu, lalu ditahbiskan menjadi bhikkhu pada 1938 di Wat Nong Tao. Phra Kru Udom Khunaphon bertindak sebagai upajjhaya, sedangkan Phra Maha Amnuai memberikan pembacaan dalam prosesi penahbisan.

Pada awal kehidupannya sebagai bhikkhu, beliau masih memiliki ketakutan terhadap jenazah dan kematian — bahkan sempat berniat meninggalkan jubah. Namun pengalaman setelah kematian ibunya mengubah pandangan itu. Beliau diminta membantu membawa jenazah ibunya, dan pengalaman tersebut mula-mula membuatnya sangat takut hingga kehilangan nafsu makan selama beberapa hari.

Seorang guru bernama Luang Ta Kham kemudian memberi pemahaman mengenai tubuh manusia dan hakikat kehidupan: manusia dan semua makhluk pada akhirnya menghadapi kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Sejak itu ketakutan beliau perlahan surut dan keyakinannya untuk menjalani kehidupan bhikkhu seumur hidup semakin kuat.

Belajar Dhamma dan meditasi

Pada 1938 Luang Pho Phina menyelesaikan pendidikan Dhamma tingkat dasar, Nak Tham Tri. Setelah itu beliau mulai berjalan untuk mempelajari meditasi dan praktik Dhamma.

Beliau pernah tinggal dan berlatih di Wat Tham Tako, Provinsi Lopburi. Dari tempat itu perjalanannya berkembang jauh lebih panjang: pertapaan ke berbagai daerah di Thailand, dari wilayah utara sampai selatan, dan menurut kisah perjalanan beliau juga sampai ke Myanmar, Laos, Kamboja, dan India.

Bagi seorang bhikkhu tradisi pertapaan, perjalanan seperti ini bukan perjalanan biasa. Ia merupakan latihan untuk hidup sederhana, menghadapi kesulitan, memperdalam meditasi, dan melepaskan ketergantungan pada kenyamanan duniawi.

Berguru kepada para master tradisi hutan

Salah satu bagian penting dalam kehidupan Luang Pho Phina adalah hubungannya dengan para guru besar tradisi hutan Thailand. Sekitar tahun 1942, beberapa sumber mencatat bahwa beliau belajar dan berlatih bersama Luang Pu Mun Phurithatto. Beliau juga disebut pernah belajar dengan Luang Pu Fan Ajaro, Luang Ta Maha Bua Nyanasampanno, dan beberapa guru meditasi lainnya.

Tradisi yang berkembang di kalangan murid menggambarkan beliau sebagai bhikkhu yang sangat menekankan meditasi, kesederhanaan, dan kehidupan yang dekat dengan alam.

Perjalanan menuju Saraburi

Setelah bertahun-tahun mengembara, Luang Pho Phina sampai di Ban Sanom Lao, Distrik Nong Khae, Provinsi Saraburi, pada 1984.

Pada waktu itu tempat yang sekarang dikenal sebagai Wat Sanom Lao merupakan kawasan kuil tua yang sudah tidak aktif dan berada dalam kondisi terbengkalai. Namun bagi beliau, suasananya justru sesuai untuk praktik meditasi. Masyarakat setempat kemudian mengundang beliau tinggal dan menjalani masa retret di sana, dan seiring waktu tempat itu hidup kembali sebagai Wat Sanom Lao — pusat kehidupan spiritual Luang Pho Phina.

Kehidupan di Wat Sanom Lao

Di Wat Sanom Lao, beliau menjalani kehidupan sebagai guru spiritual sekaligus pembimbing bagi murid dan masyarakat yang datang belajar Dhamma. Beliau dikenal tidak mengejar kehidupan duniawi; keseharian lebih banyak diarahkan pada praktik dan pembinaan murid.

Dalam kisah yang berkembang di antara para pengikutnya, Luang Pho Phina juga memiliki kemampuan meditasi dan pengetahuan mengenai berbagai ilmu spiritual tradisional Thailand. Bagian mengenai kemampuan supranatural tersebut sebaiknya dipahami sebagai kepercayaan dan kesaksian yang berkembang di kalangan murid dan pengagum beliau; tidak semua kisah itu memiliki dokumentasi sejarah yang dapat diverifikasi secara independen.

Benda pusaka Luang Pho Phina

Nama Luang Pho Phina juga sangat dikenal di kalangan kolektor benda pusaka Thailand. Dalam katalog dan daftar perlombaan, karya dari periode Wat Tha Koey maupun periode Wat Sanom Lao tercatat secara khusus.

Beberapa jenis yang sering muncul dalam katalog kolektor antara lain seri bintang, bintang Mae Nuea Hom, bintang Mae Nam Hom, bintang Pao Bun Chin, bintang Nai Phan, dan bintang Nai Sip, serta bentuk lain seperti Duang Ta Sawan. Karena jenisnya cukup banyak, orang yang ingin mempelajari koleksi beliau biasanya perlu memahami dulu sejarah pembuatannya: perbedaan tempat, tahun, bentuk, bahan, dan ciri khas tiap angkatan — termasuk membedakan benda dari periode awal, periode Wat Tha Koey, periode Wat Sanom Lao, dan benda yang dibuat setelah beliau wafat.

Para murid menceritakan berbagai pengalaman setelah menggunakan benda spiritual beliau, sebagian menghubungkannya dengan perlindungan, keberuntungan, dan ketenangan batin. Klaim seperti itu merupakan pengalaman dan kepercayaan pribadi. Yang lebih penting adalah hubungan benda tersebut dengan kehidupan spiritual beliau: bagi pengikutnya, benda pusaka adalah simbol penghormatan kepada guru dan pengingat untuk menjalani hidup sesuai Dhamma.

Persiapan menghadapi kematian

Salah satu kisah paling terkenal mengenai Luang Pho Phina adalah persiapannya menghadapi kematian. Menurut catatan yang masih dikutip beberapa sumber, beliau sudah mempersiapkan tempat untuk menyimpan jasadnya sebelum meninggal dunia, dan pernah mengatakan kepada para murid bahwa kawasan tersebut sesuai menjadi tempat terakhir bagi dirinya.

Tempat itu dirancang dengan unsur air di bagian bawah dan tempat penyimpanan jasad di bagian atas. Para murid menafsirkan rancangan tersebut sebagai simbol kehidupan yang berada di atas arus kelahiran dan kematian. Di sekitarnya kemudian dibangun struktur berbentuk stupa sebagai tempat penghormatan.

Beberapa hari sebelum wafat, beliau menulis pesan mengenai apa yang harus dilakukan setelah beliau meninggal: jenazahnya tidak diawetkan dengan suntikan, tetap ditempatkan dalam posisi duduk bersila, lalu disimpan di tempat yang telah dipersiapkan; tidak ada upacara pemakaman yang berlebihan, dan jenazahnya tidak dikremasi. Pesan tersebut ditulis pada 4 Oktober 2002 dan ditandatangani oleh beliau.

Wafat dalam posisi meditasi

Luang Pho Phina Piyatharo wafat pada 15 Oktober 2002 dalam keadaan duduk bersila seperti posisi meditasi, pada usia 89 tahun.

Sumber-sumber Thailand mencatat bahwa setelah wafat, tubuh beliau tetap ditempatkan dalam posisi duduk bersila sesuai pesan yang ditinggalkan, lalu disemayamkan dalam peti kaca di tempat yang telah disiapkan. Kisah mengenai cara beliau meninggal menjadi salah satu bagian paling dikenal dalam biografinya.

Warisan Luang Pho Phina

Warisan beliau tidak hanya berupa benda pusaka. Bagi para pengikutnya, warisan terpenting adalah kehidupan seorang bhikkhu yang menghabiskan puluhan tahun untuk mencari Dhamma, menjalani pertapaan, mempelajari meditasi, dan hidup sederhana.

Perjalanan itu dimulai dari seorang anak yang sering sakit, berlanjut ke kehidupan monastik, perjalanan ke berbagai negeri, bimbingan para guru meditasi, dan akhirnya berlabuh di sebuah kuil tua di Saraburi yang beliau hidupkan kembali. Setelah beliau wafat, para murid terus menjaga tempat penyimpanan jasad dan peninggalan beliau. Pihak Wat Sanom Lao bahkan pernah menerbitkan buku khusus mengenai kehidupan beliau, lengkap dengan dokumentasi berbagai benda spiritual dari masa awal hingga periode berikutnya.