HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Luang Pu Fan Pasato

HHengAmulet6 menit baca
Luang Pu Fan

Guru spiritual dari Wat Sri Thamorarat

Luang Pu Fan Pasato dikenal karena kehidupan yang sederhana, disiplin dalam praktik keagamaan, dan perjalanan panjangnya mempelajari ajaran Buddha, meditasi, serta berbagai ilmu tradisional.

Beliau menghabiskan puluhan tahun menjalani perjalanan thudong, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk berlatih meditasi dan memperdalam kehidupan spiritual. Dalam perjalanan itu beliau berguru kepada sejumlah guru senior Thailand, termasuk Luang Pho Derm, Luang Pho Thob, dan Luang Pho Kuay.

Pada masa tuanya beliau menetap di Wat Sri Thamorarat, Distrik Si Thep, Provinsi Phetchabun, dan namanya semakin dikenal di kalangan umat Buddha maupun kolektor benda pusaka Thailand.

Masa kecil di Nakhon Sawan

Luang Pu Fan lahir dengan nama Fan Sonrabieb pada 2 Mei 1931 di Distrik Tha Tako, Provinsi Nakhon Sawan, sebagai anak pertama dari sebelas bersaudara.

Ayahnya seorang pedagang ternak yang sering bepergian untuk membeli dan menjual sapi serta kerbau. Keluarga mereka hidup sederhana, dan sejak kecil Fan sudah terbiasa dengan kehidupan yang tidak berlebihan. Pengalaman itu menjadi dasar wataknya yang kemudian dikenal sederhana dan tidak mengejar kenyamanan duniawi.

Ketika masih muda, kehidupannya membawanya ke lingkungan Wat Nong Pho. Di sanalah beliau mulai mengenal Luang Pho Derm, guru spiritual Thailand yang sangat dihormati pada zamannya.

Bertemu Luang Pho Derm

Pada usia sekitar sepuluh tahun, Fan mulai membantu merawat gajah milik Luang Pho Derm. Kedekatan itu membuatnya melihat sang guru bukan hanya sebagai bhikkhu, tetapi sebagai orang yang menjalani hidup dengan disiplin dan kesederhanaan.

Pada usia sekitar tiga belas tahun beliau ditahbiskan menjadi samanera, dan selama kurang lebih tujuh tahun tinggal serta belajar bersama Luang Pho Derm. Di bawah bimbingan gurunya, beliau mempelajari kehidupan seorang bhikkhu, ajaran Buddha, disiplin monastik, praktik meditasi, dan berbagai pengetahuan tradisional yang pada masa itu diwariskan dari guru kepada murid.

Tahun-tahun bersama Luang Pho Derm menjadi salah satu bagian terpenting dalam perjalanan spiritual Luang Pu Fan.

Menjadi bhikkhu

Setelah beberapa tahun sebagai samanera, beliau ditahbiskan menjadi bhikkhu di Wat Noen Tako, Provinsi Nakhon Sawan, dan menerima nama monastik Pasato.

Sejak itu kehidupannya diarahkan pada pembelajaran Dhamma, meditasi, dan latihan batin. Luang Pu Fan tidak memilih kehidupan yang penuh kenyamanan; beliau justru tertarik pada kehidupan bhikkhu pengembara yang sederhana dan dekat dengan alam. Keinginan itulah yang membawanya memasuki perjalanan panjang sebagai bhikkhu thudong.

Belajar kepada Luang Pho Thob dan Luang Pho Kuay

Salah satu guru penting dalam perjalanan beliau adalah Luang Pho Thob dari Wat Phra Phutthabat Chon Daen. Menurut beberapa sumber Thailand, Luang Pu Fan belajar kepada beliau selama sekitar empat masa vassa dan memperdalam meditasi, ajaran Buddha, serta berbagai ilmu tradisional.

Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan untuk belajar kepada Luang Pho Kuay dari Wat Kositaram, kurang lebih selama dua masa vassa.

Sepanjang hidupnya, Luang Pu Fan bertemu dan belajar kepada banyak guru senior dalam tradisi spiritual Thailand. Nama yang sering disebut dalam riwayatnya antara lain Luang Pho Derm, Luang Pho Thob, Luang Pho Kuay, Luang Pho Khun, Luang Pho Phit, Luang Pho Khian, Luang Pho Kan, dan Luang Pho Noi. Bagi beliau, mencari guru bukan sekadar mempelajari ilmu tertentu, tetapi bagian dari latihan kehidupan seorang bhikkhu: disiplin, meditasi, kesederhanaan, dan pengalaman langsung.

Puluhan tahun menjalani thudong

Bagian paling dikenal dari kehidupan Luang Pu Fan adalah perjalanan thudong. Beliau mulai menjalaninya pada usia sekitar dua puluh delapan tahun, dan perjalanan itu berlangsung puluhan tahun ke berbagai wilayah Thailand serta beberapa negara di Asia Tenggara.

Dalam perjalanan spiritualnya beliau disebut pernah melewati Kanchanaburi, Myanmar, Laos, dan Kamboja, juga menempuh wilayah selatan Thailand sebelum kembali ke wilayah tengah dan utara. Pada perjalanan awal beliau terkadang berjalan bersama bhikkhu lain; pada perjalanan berikutnya beliau lebih sering berjalan seorang diri.

Kehidupan seorang bhikkhu thudong

Kehidupan thudong bukan kehidupan yang mudah. Barang yang dibawa sangat terbatas, perjalanan dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, dan seorang bhikkhu harus menghadapi cuaca, kelelahan, rasa takut, serta ketidakpastian.

Bagi Luang Pu Fan, keadaan seperti itu justru menjadi latihan batin. Thudong bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan untuk melatih pikiran dan diri sendiri.

Menurut kisah yang dimuat beberapa sumber Thailand, beliau pernah mengalami perampokan di tengah perjalanan. Beliau memilih untuk tidak membalas dan tetap melanjutkan kehidupannya sebagai bhikkhu. Kisah itu sering dikaitkan dengan kesederhanaan dan ketenangan beliau.

Dalam menjalani thudong, Luang Pu Fan tetap memegang prinsip yang dahulu diajarkan Luang Pho Derm. Beberapa sumber menyebut enam belas prinsip yang beliau jadikan pedoman sebagai bhikkhu pengembara. Bagi beliau, latihan spiritual bukan hanya soal pengetahuan atau kemampuan tertentu, melainkan disiplin, kesabaran, pengendalian diri, dan kemampuan menghadapi berbagai keadaan tanpa kehilangan ketenangan batin.

Perjalanan hingga Laos

Dalam perjalanan panjangnya, Luang Pu Fan juga disebut pernah sampai ke Laos. Di sana beliau bertemu beberapa guru setempat dan mempelajari tradisi spiritual yang berkembang di kawasan itu; salah satu perjalanan membawanya menuju daerah Tham Bua.

Perjalanan seperti ini membuat pengalaman beliau semakin luas. Beliau tidak hanya belajar dari satu lingkungan, tetapi dari berbagai daerah dan tradisi yang ditemuinya selama bertahun-tahun.

Menetap di Wat Sri Thamorarat

Setelah puluhan tahun berjalan, Luang Pu Fan kembali ke wilayah Nakhon Sawan dan sempat tinggal di Wat Wang Nam Lat, Distrik Phaisali, selama sekitar tujuh masa vassa.

Pada usia lanjut, umat dari daerah Khok Sadao, Distrik Si Thep, Provinsi Phetchabun, mengundang beliau menetap di Wat Sri Thamorarat. Tempat itu kemudian menjadi sangat erat dengan nama beliau. Di sana beliau menjalankan kegiatan keagamaan dan menerima umat yang datang untuk memberi penghormatan, memohon nasihat, atau mengikuti kegiatan vihara.

Setelah beliau menetap, umat mulai membantu pembangunan dan pengembangan vihara — salah satunya pembangunan menara lonceng. Kegiatan itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan dibuatnya berbagai benda peringatan yang berkaitan dengan Luang Pu Fan, sehingga pembuatan medali tidak hanya berkaitan dengan kegiatan spiritual, tetapi juga dengan dukungan umat terhadap pembangunan tempat ibadah.

Luang Pu Fan dan benda pusaka

Nama Luang Pu Fan juga dikenal di kalangan kolektor benda pusaka Thailand. Bagi sebagian umat dan kolektor, benda yang dibuat atau diberkati oleh beliau dianggap bagian dari warisan spiritual dan budaya yang berkaitan dengan perjalanan hidupnya.

Popularitas itu tidak terlepas dari riwayatnya: berguru kepada banyak guru senior, menjalani latihan meditasi, dan menempuh thudong selama puluhan tahun. Salah satu medali yang cukup dikenal berkaitan dengan pengumpulan dana untuk pembangunan menara lonceng di Wat Sri Thamorarat. Menurut sumber Thailand, upacara pemberkatannya dilaksanakan pada 28 Maret 2020 di vihara tersebut, dengan Luang Pu Fan sebagai salah satu tokoh utama bersama sejumlah guru dan praktisi lain.

Guru yang memilih kesederhanaan

Bagi para kolektor, nama Luang Pu Fan memang sulit dipisahkan dari benda-benda pusaka yang berkaitan dengannya. Namun bila dilihat lebih luas, warisan beliau jauh lebih besar daripada benda pusaka.

Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk belajar, berjalan, dan berlatih: dari seorang anak sederhana yang membantu merawat gajah, menjadi samanera, belajar kepada guru-guru senior, lalu menjalani thudong selama puluhan tahun. Setelah dikenal masyarakat luas pun beliau tetap mempertahankan kehidupan yang sederhana dan dekat dengan praktik keagamaan, tanpa mengejar jabatan maupun kedudukan dalam organisasi keagamaan.

Bagi para pengikutnya, Luang Pu Fan Pasato dikenang sebagai guru spiritual yang sederhana, berpengalaman, dan memiliki perjalanan thudong yang panjang — pengingat bahwa di balik nama besar seorang guru terdapat perjalanan yang dibangun melalui disiplin, kesabaran, latihan batin, dan kehidupan yang tidak berlebihan.