Kembali ke Master
Biksu & Sejarah

Luang Pu Hong Phrom Panyo

HHengAmulet6 menit baca
Luang Pu Hong Phrom Panyo

Luang Pu Hong Phrom Panyo (หลวงปู่หงษ์ พรหมปัญโญ), yang memiliki gelar monastik Phra Khru Prasat Phrom Khun (พระครูปราสาทพรหมคุณ), merupakan salah satu guru spiritual dan bhikkhu yang sangat dihormati dari Provinsi Surin, Thailand. Beliau dikenal luas melalui kehidupan monastiknya yang panjang, praktik meditasi dan dhutanga, kepeduliannya terhadap masyarakat, serta ajaran mengenai metta atau kasih sayang kepada semua makhluk. Nama beliau juga sangat dikenal di kalangan umat Buddha dan kolektor amulet Thailand, khususnya melalui benda-benda pusaka yang dibuat di Wat Phetchaburi dan kawasan Thung Mon.

Menurut catatan biografi yang banyak digunakan dalam tradisi Luang Pu Hong, beliau lahir pada 5 Maret 1917 di Ban Thung Mon, Distrik Prasat, Provinsi Surin, yang pada masa itu merupakan bagian dari Siam. Nama lahir beliau adalah Suwann Hong Chamau Di (สุวรรณหงษ์ จะมัวดี). Sejak kecil beliau tumbuh dalam keluarga sederhana dan membantu orang tuanya bekerja di bidang pertanian. Kehidupan masa muda yang sederhana tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan beliau sebelum memasuki kehidupan sebagai seorang bhikkhu.

Ketika berusia sekitar 18 tahun, Luang Pu Hong ditahbiskan sebagai samanera. Dalam beberapa catatan biografi disebutkan bahwa pada awalnya beliau hanya berencana menjalani kehidupan sebagai samanera untuk waktu yang singkat atas permintaan ibunya. Namun setelah menjalani kehidupan sebagai samanera, beliau semakin tertarik untuk mempelajari Dhamma dan menjalani kehidupan monastik. Perjalanan tersebut akhirnya membawa beliau untuk tetap berada dalam kehidupan kebhikkhuan.

Luang Pu Hong kemudian menerima penahbisan penuh sebagai bhikkhu dan menggunakan nama Phrom Panyo (พรหมปัญโญ). Nama tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan kebijaksanaan yang luhur. Setelah menjalani kehidupan sebagai bhikkhu, beliau tidak hanya mempelajari ajaran Buddha, tetapi juga menjalani praktik yang keras dan melakukan perjalanan untuk memperdalam pengetahuan serta pengalaman spiritualnya.

Salah satu bagian yang paling sering disebut dalam biografi Luang Pu Hong adalah perjalanan beliau melakukan dhutanga dan belajar kepada berbagai guru di wilayah Thailand dan Kamboja. Tradisi yang berkembang di kalangan murid beliau menceritakan bahwa Luang Pu Hong menjalani kehidupan yang sederhana, banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan dan meditasi, serta mempelajari berbagai bentuk praktik spiritual yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan beliau sebagai seorang guru.

Dalam perjalanan tersebut, Luang Pu Hong juga dikenal mempelajari berbagai ilmu tradisional yang dalam masyarakat Thailand dikenal sebagai วิชาอาคม (wicha akhom). Di antara ilmu yang dikaitkan dengan beliau adalah praktik metta mahaniyom, perlindungan diri, kekebalan dan keselamatan, pembuatan minyak atau lilin suci, serta pembuatan air suci. Namun bagi Luang Pu Hong, pengetahuan tersebut tidak berdiri sendiri. Ajaran dan praktik beliau tetap dikaitkan dengan kehidupan sebagai seorang bhikkhu dan dengan tujuan membantu serta melindungi masyarakat.

Nama Luang Pu Hong semakin dikenal ketika beliau kembali ke daerah Thung Mon dan menetap di Wat Phetchaburi, yang juga dikenal sebagai Thung Mon Cemetery atau Susaan Thung Mon. Tempat ini kemudian menjadi pusat kehidupan dan aktivitas beliau selama bertahun-tahun. Di sana beliau membimbing umat, mengajarkan Dhamma, memberikan nasihat kepada para murid dan membantu masyarakat yang datang meminta petunjuk.

Luang Pu Hong juga dikenal sebagai seorang bhikkhu yang memiliki perhatian besar terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Selain menjalankan tugas keagamaan, beliau terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan pengembangan masyarakat. Tradisi yang berkembang di sekitar Wat Phetchaburi juga menghubungkan beliau dengan kegiatan pelestarian alam, penanaman pohon, pengelolaan sumber air dan perlindungan hewan. Dedikasi tersebut membuat nama beliau tidak hanya dihormati sebagai guru spiritual, tetapi juga sebagai tokoh yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya.

Atas pengabdian dan perannya dalam kehidupan keagamaan, Luang Pu Hong menerima gelar monastik Phra Khru Prasat Phrom Khun. Pada tahun 2523 BE (1980 M), beliau menerima kenaikan tingkat gelar sebagai Phra Khru Sanyabat tingkat Tri dalamราชทินนาม tersebut. Kemudian pada tahun 2535 BE (1992 M), beliau menerima kenaikan tingkat menjadi Phra Khru Sanyabat tingkat Tho denganราชทินนาม yang sama. Penghargaan dan pengakuan yang diterima beliau juga mencakup bidang pengembangan kuil, pelayanan kepada masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Kepedulian Luang Pu Hong terhadap lingkungan menjadi salah satu bagian yang menarik dalam kehidupan beliau. Pada tahun-tahun terakhir abad ke-20, Wat Phetchaburi dikenal sebagai tempat yang aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Beliau menerima berbagai penghargaan atas kegiatan tersebut, termasuk penghargaan tingkat provinsi dalam bidang lingkungan dan penghargaan yang berkaitan dengan pengembangan kuil serta manfaatnya bagi Buddhisme. Pada tahun 2537 BE (1994 M), beliau juga menerima Sema Dharmachakra, sebuah penghargaan yang diberikan atas kontribusi dalam bidang Buddhisme dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, Luang Pu Hong dikenal memiliki sifat penuh kasih kepada manusia maupun hewan. Para murid dan orang-orang yang dekat dengan beliau sering menceritakan bagaimana beliau memberikan perhatian kepada semua makhluk tanpa membedakan status atau kedudukan. Sikap metta tersebut menjadi salah satu ciri yang paling kuat dalam ingatan para murid terhadap beliau dan menjadi bagian penting dari warisan ajaran yang ditinggalkannya.

Nama Luang Pu Hong juga sangat dikenal dalam dunia amulet Thailand. Berbagai amulet dan benda pusaka dibuat dengan nama beliau, terutama dari Wat Phetchaburi, Thung Mon, Surin. Benda-benda tersebut menjadi populer di kalangan umat Buddha Thailand dan kolektor karena hubungan yang kuat dengan kehidupan dan praktik spiritual beliau. Beberapa amulet Luang Pu Hong juga dibuat dalam berbagai kesempatan penting sepanjang masa beliau masih hidup, sehingga masing-masing generasi dan jenis amulet memiliki sejarah serta karakteristik tersendiri.

Salah satu ungkapan yang sangat erat dikaitkan dengan Luang Pu Hong adalah "Na Me Ti" (นะ เม ติ). Ungkapan tersebut banyak ditemukan pada amulet dan benda pusaka yang berkaitan dengan beliau. Bagi para murid dan kolektor, tulisan tersebut menjadi salah satu ciri yang mudah dikenali dari amulet Luang Pu Hong.

Menjelang akhir kehidupannya, Luang Pu Hong tetap berada dalam lingkungan yang berkaitan dengan Thung Mon dan Wat Phetchaburi. Beliau kemudian dirawat di Rumah Sakit Bumrungrad, Bangkok. Pada 5 Maret 2014, Luang Pu Hong Phrom Panyo wafat dengan tenang setelah menjalani kehidupan sebagai bhikkhu selama sekitar 77 tahun. Salah satu hal yang selalu dikenang oleh para murid adalah bahwa tanggal wafat beliau jatuh tepat pada tanggal yang sama dengan tanggal kelahirannya, yaitu 5 Maret. Beliau wafat pada usia 97 tahun.

Setelah wafatnya, sisa jasad dan peninggalan Luang Pu Hong tetap menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan di Thung Mon. Susaan Thung Mon dan Wat Phetchaburi menjadi tempat yang terus didatangi umat dan para murid untuk memberikan penghormatan. Kantor Buddhisme Provinsi Surin juga secara resmi masih terlibat dalam kegiatan peringatan dan upacara penghormatan terhadap Luang Pu Hong di Susaan Thung Mon.

Luang Pu Hong Phrom Panyo meninggalkan warisan yang tidak hanya berupa amulet dan benda pusaka, tetapi juga ajaran mengenai metta, kehidupan sederhana, praktik Dhamma, kepedulian terhadap masyarakat dan penghormatan terhadap semua makhluk. Bagi banyak umat Buddha Thailand, beliau tetap dikenang sebagai seorang bhikkhu yang menjalani kehidupan panjang dalam praktik dan pelayanan kepada masyarakat. Bagi para kolektor amulet, nama Luang Pu Hong menjadi salah satu nama penting dari tradisi amulet Thailand modern, khususnya dari wilayah Surin dan Wat Phetchaburi.