HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Luang Pu Jue Phanthamutto

HHengAmulet5 menit baca
Luang Pu Jue

Guru Vipassana dari Chaiyaphum yang dikenal sebagai “Dewa Air”

Luang Pu Jue Phanthamutto adalah salah satu guru meditasi Vipassana yang dikenal luas di Isan, Thailand. Beliau murid Luang Pu Phang Jittakhutto, guru meditasi terkenal dari Provinsi Khon Kaen.

Selain sebagai bhikkhu yang menekuni meditasi dan kehidupan pertapaan, Luang Pu Jue dikenang karena pengabdiannya kepada masyarakat, terutama dalam pembangunan sumber air dan berbagai fasilitas di sekitar Wat Khao Ta Ngo Udomphon, Provinsi Chaiyaphum. Karena jasa itulah umat dan para pengikut beliau menyebutnya “Dewa Air”.

Masa kecil di Ban Kok

Luang Pu Jue lahir pada 17 Juni 1943 di Ban Kok, Distrik Chatturat, Provinsi Chaiyaphum, dari keluarga sederhana. Ayahnya, Ho Sae Ju, berdarah Tionghoa; ibunya bernama Phi Chaliao Dee.

Hidup yang sederhana membuat beliau terbiasa bekerja keras sejak kecil. Pendidikan formalnya berhenti di kelas empat sekolah dasar, lalu beliau membantu keluarga mencari nafkah.

Sejak muda beliau terampil menjahit. Keterampilan itu membawanya ke Bangkok untuk bekerja di Ko Kiat, salah satu toko jahit terkemuka pada masa itu. Meski hidup sebagai pekerja, ketertarikan pada kehidupan spiritual sudah tumbuh: waktu di luar pekerjaan sering dipakai untuk pergi ke kuil dan mendengarkan Dhamma.

Penahbisan dan bimbingan Luang Pu Phang

Pada 15 November 1975, Luang Pu Jue ditahbiskan menjadi bhikkhu di Wat Si Kaeng Khro, Chaiyaphum, dengan Phra Phothiyanmuni sebagai guru penahbis. Sejak itu beliau memusatkan perhatian pada studi Dhamma, meditasi Vipassana, dan latihan dalam tradisi bhikkhu hutan.

Beliau kemudian berguru kepada Luang Pu Phang Jittakhutto dari Wat Udom Khongkha Khiri Khet, Distrik Manchakiri, Khon Kaen — salah satu guru meditasi yang paling dihormati di kawasan Isan. Di bawah bimbingan itu Luang Pu Jue memperdalam meditasi dan disiplin kehidupan bhikkhu, lalu dikenal sebagai salah satu murid yang meneruskan garis praktik Dhamma Luang Pu Phang.

Kehidupan pertapaan

Setelah mendalami meditasi, Luang Pu Jue menjalani kehidupan bhikkhu hutan dan kerap melakukan perjalanan pertapaan ke tempat-tempat yang jauh dari keramaian: hutan, pegunungan, dan daerah bersumber air alami.

Perjalanan itu bukan hanya memperdalam meditasi. Beliau juga melihat langsung kesulitan masyarakat desa, khususnya persoalan air untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian. Pengalaman inilah yang kemudian membuat kehidupan beliau tidak berhenti pada praktik pribadi, tetapi berlanjut menjadi pelayanan.

Wat Khao Ta Ngo Udomphon

Perjalanan spiritual Luang Pu Jue akhirnya berlabuh di Wat Khao Ta Ngo Udomphon, Distrik Nong Bua Rawe, Chaiyaphum. Kuil ini memiliki kawasan sekitar 200 rai dan berada di jalur Chaiyaphum menuju Nakhon Sawan.

Di sinilah hubungan beliau dengan masyarakat setempat menjadi semakin erat. Selain menjalankan tugas sebagai bhikkhu dan guru meditasi, beliau mulai membantu penduduk menghadapi persoalan sehari-hari. Persoalan terbesar yang beliau lihat adalah kekurangan air.

Membangun sumber air bagi Nong Bua Rawe

Sekitar tahun 1980, ketika Luang Pu Jue sedang menjalani praktik meditasi di Wat Khao Ta Ngo Udomphon, masyarakat Nong Bua Rawe menghadapi kekurangan air untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Beliau melihat aliran air dari kawasan Lam Chiang Tha yang mengalir menuju Sungai Chi, dan menilai air itu dapat ditampung untuk musim kemarau. Luang Pu Jue lalu mengajak para bhikkhu, murid, dan masyarakat bekerja bersama membangun bendungan tanah serta fasilitas penampungan air, dengan sumbangan masyarakat dan dukungan pemerintah.

Usaha tersebut memberi manfaat bagi beberapa wilayah, termasuk Distrik Ban Khwao, Nong Bua Rawe, dan Mueang Chaiyaphum. Bagi Luang Pu Jue, membangun sumber air bukan sekadar pekerjaan fisik: dengan air, masyarakat dapat bertani, mendapatkan makanan, dan mempertahankan kehidupan mereka.

Lebih dari tiga puluh waduk

Pengabdian itu berlangsung puluhan tahun. Menurut berbagai laporan mengenai kehidupan beliau, sejak sekitar 1980 hingga 2015 Luang Pu Jue bersama masyarakat membantu pembangunan lebih dari tiga puluh waduk dengan berbagai ukuran, dari penampungan kecil hingga proyek besar.

Ketersediaan air itu mengubah lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami sekali dalam setahun menjadi lahan yang di sebagian wilayah dapat ditanami dua kali setahun. Selain waduk dan bendungan, beliau juga dikenal membantu pembangunan jalan dan fasilitas lain yang dianggap bermanfaat.

Bagi para pengikutnya, inilah sisi penting kehidupan beliau: Dhamma tidak hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi diterapkan melalui tindakan nyata.

Ajaran yang sederhana

Di samping kegiatan sosial, Luang Pu Jue tetap menjalankan kehidupan sebagai guru meditasi. Para murid datang untuk mendengarkan ajaran dan meminta nasihat mengenai kehidupan serta praktik spiritual.

Cara beliau menyampaikan Dhamma dikenal sederhana dan dekat dengan keseharian. Salah satu pesan yang sering dikaitkan dengan beliau: manusia tidak hanya membutuhkan air untuk hidup, tetapi juga kata-kata yang baik dan hati yang penuh kebaikan. Air memberi kehidupan bagi tubuh; perkataan yang baik dan kemurahan hati membuat manusia dapat hidup berdampingan dengan damai.

Penghormatan dari Kerajaan Thailand

Dedikasi beliau dalam meditasi dan pelayanan masyarakat juga mendapat penghormatan kerajaan. Pada 2021 beliau mendapat kesempatan menjalankan praktik meditasi dan Dhamma di Wat Phra Sri Rattana Satsadaram, kuil Buddha Zamrud, dalam rangkaian persembahyangan kerajaan.

Pada Juni 2021, bertepatan dengan ulang tahun ke-78, beliau menerima persembahan kerajaan berupa perlengkapan penghormatan, air suci, rangkaian bunga lotus, dan jubah. Tidak lama kemudian, pada 28 Juni 2021, beliau menerima kenaikan gelar kebhikkhuan menjadi Phra Rajapawana Wachirakhun, gelar kerajaan tingkat Racha dalam jalur Vipassana.

Wafat dan warisan

Setelah lebih dari lima dekade menjalani kehidupan kebhikkhuan, Luang Pu Jue wafat pada 23 Agustus 2026 di Wat Khao Ta Ngo Udomphon, dalam usia 83 tahun dan 51 tahun vassa. Kabar itu membuat murid dan umat dari berbagai daerah datang memberikan penghormatan terakhir.

Kehidupan beliau bermula dari keluarga sederhana dan pekerjaan sebagai penjahit di Bangkok, lalu berlanjut menjadi kehidupan bhikkhu hutan, murid Luang Pu Phang, dan akhirnya tokoh spiritual yang dihormati di Isan. Yang membuat perjalanan itu berbeda adalah perpaduan antara praktik spiritual dan pelayanan sosial.

Warisan terbesar Luang Pu Jue tidak berhenti pada nama atau benda-benda yang dibuat untuk mengenang beliau, tetapi juga terlihat pada waduk, bendungan, dan jalan yang dibangun bersama masyarakat. Bagi masyarakat Chaiyaphum, beliau akan selalu dikenang sebagai bhikkhu yang membantu membawa air ke tanah yang membutuhkan kehidupan.