HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Luang Pu Liew Pannako

Luang Pu Liew

Guru spiritual di balik Phaya Tao Ruean

Luang Pu Liew Pannako adalah guru spiritual Thailand yang sangat dikenal di kalangan pencinta benda pusaka. Namanya terutama dikaitkan dengan amulet berbentuk kura-kura, Phaya Tao Ruean, yang kemudian menjadi karya paling terkenal dari tangan beliau.

Namun perjalanan hidupnya tidak hanya soal benda pusaka. Beliau juga dikenal sebagai bhikkhu yang menghabiskan hidupnya untuk belajar Dhamma, mengembangkan meditasi, membantu masyarakat, serta membangun dan memperbaiki berbagai tempat ibadah. Kehidupannya berlangsung hampir satu abad dan meninggalkan pengaruh besar di berbagai daerah di Thailand.

Masa kecil di Ratchaburi

Luang Pu Liew lahir dengan nama Liew Saetang pada 7 Desember 1905 di Ban Nong Or, wilayah Ban Sing, Distrik Photharam, Provinsi Ratchaburi, sebagai anak dari Tang Saetang dan Noi Saetang. Keluarganya hidup sederhana dan bekerja sebagai petani, dan sejak kecil beliau sudah terbiasa membantu orang tua bekerja.

Selain membantu pekerjaan keluarga, beliau belajar keterampilan pertukangan dari ayahnya — kemampuan yang kemudian menjadi bekal penting dalam hidupnya, karena beliau dikenal cakap dalam pekerjaan kayu dan pekerjaan tangan lainnya.

Beliau juga mempelajari berbagai tanaman obat dan pengobatan tradisional. Karena sering membantu orang sakit di lingkungan sekitarnya, pengetahuannya berkembang hingga beliau dikenal sebagai orang yang dapat membantu mengobati masyarakat.

Sebelum menjadi bhikkhu

Pada masa mudanya, kehidupan di daerah tempat tinggalnya tidak selalu aman. Beberapa sumber sejarah mengenai beliau menceritakan bahwa kawasan Ratchaburi, Phetchaburi, Suphan Buri, dan sekitarnya pada masa itu dikenal memiliki banyak kelompok perampok. Keluarganya sendiri pernah mengalami kehilangan akibat pencurian hewan ternak.

Karena ingin melindungi keluarganya, Liew pergi mencari guru yang dapat mengajarinya berbagai ilmu tradisional. Menurut riwayat yang banyak diceritakan, beliau pernah belajar kepada seorang guru keturunan Karen yang dikenal sebagai Ajarn Mong, tinggal dan belajar selama beberapa tahun sebelum kembali ke kampung halamannya. Dalam cerita yang berkembang mengenai kehidupannya, ilmu itu kemudian beliau gunakan untuk membantu mengatasi gangguan para perampok yang mengancam keluarganya.

Setelah kehidupan keluarganya lebih tenang, Liew menjalani kehidupan sebagai kepala keluarga. Beliau menikah dengan seorang wanita bernama Yot dan memiliki seorang anak laki-laki. Namun ketika berusia sekitar 27 tahun, kehidupan duniawi tidak lagi menjadi tujuan utamanya, dan beliau memutuskan memasuki kehidupan monastik.

Memasuki kehidupan monastik

Sekitar tahun 1932, pada usia 27 tahun, Liew ditahbiskan menjadi bhikkhu di Wat Bot, Distrik Photharam, Ratchaburi, dengan guru penahbis dan para guru pendamping dari lingkungan vihara setempat. Setelah ditahbiskan beliau menerima nama monastik Pannako.

Beliau kemudian kembali ke Wat Nong Or dan mulai memperdalam pengetahuan mengenai Dhamma, praktik meditasi, serta berbagai ilmu yang berkaitan dengan kehidupan seorang bhikkhu. Keterampilan yang sudah dimilikinya sejak muda pun terus dipakai untuk membantu pembangunan dan perbaikan bangunan vihara.

Belajar Dhamma dan meditasi

Setelah memasuki kehidupan monastik, Luang Pu Liew tidak berhenti belajar. Beliau melakukan perjalanan untuk bertemu berbagai guru yang dikenal memiliki pengetahuan dalam Dhamma, meditasi, dan ilmu tradisional.

Nama guru yang sering disebut dalam riwayatnya antara lain Luang Pho Daeng dari Wat Khao Bandai It di Phetchaburi, Pho Than Khlai dari Wat Suan Khan di Nakhon Si Thammarat, serta Luang Pho Oom dari wilayah Nakhon Sawan. Perjalanan itu memperluas pengalaman spiritual beliau: bukan hanya teori yang dipelajari, tetapi juga praktik dan kehidupan sederhana seorang bhikkhu.

Sekitar 1938 hingga 1939 beliau sempat menempuh pendidikan Dhamma di Wat Nong Or, tetapi pendidikan itu kemudian terhenti karena beliau lebih banyak terlibat dalam pekerjaan pembangunan dan membantu berbagai vihara.

Membangun dan mengembangkan vihara

Salah satu bagian penting dalam kehidupan Luang Pu Liew adalah kegiatan membangun dan memperbaiki vihara. Kemampuan pertukangan yang dipelajarinya sejak kecil sangat membantu: beliau tidak hanya mengajarkan Dhamma, tetapi terlibat langsung dalam pembangunan fasilitas keagamaan.

Pada 1941 beliau mendapat kesempatan tinggal di Wat Sanam Yae, Provinsi Kanchanaburi, dan di sana membantu memperbaiki berbagai bangunan — tempat tinggal para bhikkhu, aula, vihara, dan bangunan keagamaan lainnya. Luang Pu Liew mengabdikan diri di Wat Sanam Yae selama sekitar 36 tahun, dan pada periode itu vihara berkembang cukup besar serta menjadi salah satu tempat yang dikenal masyarakat setempat.

Sekitar 1977 beliau membantu membangun sebuah vihara baru di wilayah Chorakhe Phueak, Distrik Dan Makham Tia, Kanchanaburi. Pembangunan itu memakan waktu sekitar lima tahun, dan tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Wat Sai Thong Phatthana.

Nama Luang Pu Liew kemudian semakin erat dengan Wat Rai Taeng Thong di Distrik Kamphaeng Saen, Provinsi Nakhon Pathom. Beliau membantu membangun dan mengembangkan vihara tersebut hingga dikenal luas, sekaligus mendukung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

Bagi beliau, membangun vihara adalah bagian dari upaya menyediakan tempat bagi masyarakat untuk belajar Dhamma dan menjalankan kegiatan keagamaan — dan karena itu warisannya tidak hanya berupa benda pusaka, tetapi juga bangunan dan kegiatan yang masih mengingatkan masyarakat kepada jasa beliau.

Awal pembuatan benda pusaka

Luang Pu Liew mulai membuat berbagai benda pusaka sekitar tahun 1957 ketika berada di Wat Sanam Yae. Pada periode awal, sebagian besar berupa benda berbahan bubuk; seiring waktu semakin banyak bentuk yang dibuat atas nama beliau.

Beberapa di antaranya berupa medali bergambar beliau, patung, rupang Buddha, Phra Sangkhajai, Phra Pitda, takrut, cicak berkepala dua, Kanha Chali, dan berbagai benda spiritual lainnya. Namun dari semua karya itu, satu bentuk yang kemudian menjadi identitas Luang Pu Liew adalah Phaya Tao Ruean.

Phaya Tao Ruean

Phaya Tao Ruean adalah amulet berbentuk kura-kura yang kemudian menjadi salah satu benda pusaka paling terkenal dalam tradisi Thailand. Menurut riwayat yang berkembang, Luang Pu Liew mempelajari ilmu mengenai Phaya Tao Ruean dari Luang Pho Yon dari Wat Ban Khong di Ratchaburi.

Beliau memilih kura-kura karena hewan itu dikenal berumur panjang, dan karena dalam tradisi Buddhis terdapat kisah mengenai kehidupan lampau Buddha sebagai kura-kura. Karena itu kura-kura dipandang memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan umur panjang, ketahanan, perlindungan, dan keberuntungan.

Dalam tradisi kepercayaan para pengikutnya, Phaya Tao Ruean kemudian dikaitkan dengan harapan akan keberuntungan, kelancaran perdagangan, perlindungan, hubungan baik dengan orang lain, dan kemudahan dalam kehidupan. Hal tersebut merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat terhadap benda spiritual, bukan klaim ilmiah mengenai kemampuan sebuah benda.

Bagi para pengikut beliau, gambar kura-kura pada amulet bukan sekadar gambar binatang: ia memiliki makna yang berkaitan dengan perjalanan spiritual, ketekunan, umur panjang, dan keberuntungan. Inilah yang membuat Phaya Tao Ruean memiliki identitas yang jauh lebih kuat dibanding banyak benda pusaka lainnya.

Luang Pu Liew dan masyarakat

Walaupun dikenal sebagai guru spiritual dan pembuat benda pusaka, Luang Pu Liew memiliki perhatian besar terhadap masyarakat. Beliau membantu pembangunan vihara, tempat tinggal para bhikkhu, aula keagamaan, serta berbagai fasilitas lain, dan dalam catatan mengenai kehidupannya kegiatan itu menjadi bagian penting dari pengabdiannya.

Bagi beliau, kehidupan seorang bhikkhu tidak hanya berkaitan dengan meditasi dan pembelajaran Dhamma: seorang bhikkhu juga dapat membantu masyarakat melalui pembangunan tempat ibadah, pendidikan, dan berbagai pekerjaan yang memberi manfaat kepada banyak orang. Pandangan itulah salah satu alasan namanya tetap dikenang.

Tahun-tahun terakhir dan warisannya

Pada 1997 Luang Pu Liew kembali ke Wat Nong Or di Ratchaburi dan menjalani kehidupan sebagai bhikkhu biasa di sana. Pada masa tuanya kondisi fisiknya menurun, tetapi beliau tetap dihormati para murid dan umat yang datang memberi penghormatan.

Luang Pu Liew wafat dengan tenang di Wat Nong Or pada malam 4 September 2000, pada usia sekitar 95 tahun, setelah puluhan tahun menjalani kehidupan kebhikkhuan.

Setelah wafat, nama beliau tetap hidup melalui para murid, vihara yang pernah dibangunnya, dan terutama melalui benda pusaka yang dibuat semasa hidupnya — dengan Phaya Tao Ruean sebagai simbol yang paling kuat. Di Wat Rai Taeng Thong kemudian dibangun patung besar Luang Pu Liew yang duduk di atas kura-kura sebagai penghormatan atas jasa dan warisannya, dan patung itu menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi umat serta kolektor.

Bagi banyak orang, warisan terbesar Luang Pu Liew bukan hanya sebuah amulet berbentuk kura-kura, tetapi kehidupan panjang seorang bhikkhu yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membangun vihara, membantu masyarakat, dan menjalankan kehidupan spiritual.