HengAmulet
Kembali ke MasterBiksu & Sejarah

Phra Ajarn Prasoot Piyathammo

HHengAmulet7 menit baca
Phra Ajarn Prasoot

Guru spiritual dari Wat Nai Tao

Phra Ajarn Prasoot Piyathammo adalah guru spiritual Thailand dari wilayah selatan yang dikenal di kalangan pencinta benda pusaka. Beliau berasal dari Provinsi Trang dan dikenal sebagai salah satu murid dekat Por Than Saeng, guru terkenal dari Wat Nai Tao yang berada dalam tradisi ilmu kuno garis Khao Or.

Selain ketekunan dalam praktik Dhamma dan meditasi, beliau dikenal mempelajari berbagai ilmu tradisional Thailand, terutama pembuatan dan pemberkatan haman piyon (hun payon), jimat, takrut, kain yantra, serta berbagai benda spiritual lainnya. Nama beliau juga sering dikaitkan dengan Wat Tham Phra Phuttha Kosi, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Wat Nai Tao, di Distrik Huai Yot, Provinsi Trang.

Masa kecil dan keluarga

Nama lahir beliau adalah Sut Khongrit, lahir pada Kamis, 19 Oktober 1965, di Ban Huai Lut, Distrik Huai Yot, Provinsi Trang. Ayahnya bernama Pradit Khongrit dan ibunya Sanit Khongrit. Keluarganya berasal dari masyarakat pedesaan dan bekerja sebagai petani karet, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Sejak kecil beliau sudah dekat dengan dunia keagamaan. Ketika masih bersekolah, beliau pernah tinggal di Wat Nai Tao — dan di tempat itulah kehidupannya mulai dekat dengan guru yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidupnya, Por Than Saeng.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Ban Thung Tor School, lalu berlanjut hingga sekolah menengah pertama di Huai Yot School. Namun pengalaman selama tinggal di vihara itulah yang menjadi bagian terpenting: di sana beliau mengenal kehidupan seorang bhikkhu dan mulai mempelajari berbagai pengetahuan tradisional dari Por Than Saeng.

Menjadi bhikkhu

Pada usia dua puluh tahun, tepatnya pada 1986, beliau memasuki kehidupan monastik. Penahbisan berlangsung di Wat Huai Yot, Provinsi Trang, dengan Phra Khru Nimit Sangkhakhun sebagai guru penahbis. Setelah ditahbiskan, beliau menerima nama monastik Piyathammo.

Beliau tidak menjalani kehidupan monastik sebatas bentuk formal. Vinaya, ajaran Buddha, dan pendidikan Dhamma dipelajari dengan sungguh-sungguh, hingga beliau menyelesaikan tingkat tertinggi dalam pendidikan Dhamma tradisional Thailand, Nak Tham Ek.

Setelah itu beliau mulai melakukan perjalanan untuk belajar langsung kepada berbagai guru spiritual di berbagai daerah Thailand — perjalanan yang kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan pengetahuan dan praktiknya.

Murid dekat Por Than Saeng

Guru terpenting dalam kehidupan Phra Ajarn Prasoot adalah Por Than Saeng dari Wat Nai Tao. Sejak muda beliau sudah berkesempatan tinggal dan belajar di vihara itu, dan hubungan keduanya berkembang menjadi hubungan guru-murid yang sangat dekat.

Por Than Saeng dikenal sebagai salah satu guru spiritual Thailand selatan yang memiliki hubungan dengan tradisi ilmu Khao Or. Dari beliau, Phra Ajarn Prasoot mempelajari berbagai pengetahuan tradisional: ilmu spiritual, tata cara pemberkatan benda sakral, serta berbagai ilmu yang kemudian menjadi dasar praktiknya sendiri. Kedekatan itulah yang membuat beliau dikenal sebagai salah satu murid yang paling dekat dengan Por Than Saeng.

Menuntut ilmu ke berbagai daerah

Setelah memperoleh dasar ilmu dari Por Than Saeng, Phra Ajarn Prasoot melanjutkan perjalanan untuk berguru kepada berbagai guru spiritual terkenal — tidak hanya di selatan, tetapi juga di wilayah utara dan tengah Thailand.

Di wilayah utara beliau disebut pernah belajar kepada Kruba Moei dari Wat Si Dong Yen, Chiang Mai. Di wilayah tengah beliau belajar kepada Luang Pho Samrit dari Wat Tham Phaet, Provinsi Kanchanaburi. Di selatan beliau juga berguru kepada beberapa guru lain, termasuk Luang Pho Kloi dari Wat Tham Khao Ngoen.

Perjalanan itu memperlihatkan bahwa beliau tidak bersandar pada satu sumber ilmu saja: berbagai tradisi dipelajari dari guru yang berbeda, lalu dipahami lebih dalam melalui praktik langsung.

Kembali ke Wat Nai Tao

Setelah bertahun-tahun berjalan dan belajar, Phra Ajarn Prasoot akhirnya kembali ke daerah asalnya. Pada masa itu Wat Nai Tao sedang melewati masa sulit setelah wafatnya Por Than Saeng: kegiatan vihara menjadi jauh lebih sepi dan tidak ada kepala vihara tetap yang meneruskan kepemimpinan sebelumnya.

Ketika masyarakat mengetahui beliau telah kembali ke wilayah Huai Yot, banyak warga meminta beliau kembali ke Wat Nai Tao. Karena beliau murid dekat Por Than Saeng dan telah memperoleh kepercayaan masyarakat, tanggung jawab itu akhirnya beliau terima. Menurut sejumlah sumber, sejak sekitar 1997 beliau mulai kembali tinggal di Wat Nai Tao dan kemudian dipercaya menjadi kepala vihara.

Sejak saat itu Wat Nai Tao kembali berkembang dan menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi umat maupun pengikut yang ingin belajar dan memberi penghormatan.

Wat Nai Tao dan tradisi Khao Or

Wat Nai Tao juga dikenal dengan nama Wat Tham Phra Phuttha Kosi. Vihara ini berada di Distrik Huai Yot, Provinsi Trang, dan memiliki sejarah yang cukup panjang; di kawasannya terdapat gua yang menjadi bagian penting dari identitas tempat tersebut.

Tradisi keilmuan Wat Nai Tao sering dikaitkan dengan garis ilmu Khao Or dari Provinsi Phatthalung, salah satu pusat tradisi ilmu spiritual dan jimat kuno yang paling dikenal di Thailand bagian selatan. Karena hubungan inilah nama Phra Ajarn Prasoot banyak dikaitkan dengan tradisi Khao Or.

Keahlian dalam ilmu haman piyon

Keahlian beliau yang paling dikenal di kalangan kolektor benda pusaka adalah ilmu pembuatan haman piyon. Haman piyon merupakan benda spiritual tradisional Thailand berbentuk menyerupai figur manusia, yang dalam tradisi kepercayaan tertentu digunakan sebagai simbol perlindungan.

Haman piyon dalam tradisi beliau dibuat dalam berbagai bentuk — ada yang berwujud laki-laki, ada pula yang berwujud perempuan. Salah satu jenis yang dikenal adalah haman piyon generasi awal yang dibuat menggunakan takrut dan benang yang telah melalui proses pemberkatan. Kemudian muncul berbagai bentuk lain, termasuk Mahamongkol 9 yang banyak dikenal di kalangan penggemar benda spiritual.

Dalam kepercayaan para pengikutnya, haman piyon digunakan terutama sebagai simbol penjagaan dan perlindungan. Kisah mengenai kemampuan supranaturalnya merupakan bagian dari tradisi kepercayaan dan pengalaman pribadi para pengguna, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Benda spiritual yang dibuat dan diberkati

Selain haman piyon, Phra Ajarn Prasoot juga dikenal melalui berbagai benda spiritual lain, di antaranya:

* Takrut * Kain yantra * Haman piyon * Mahamongkol 9 * Figur Kumarn * Jimat harimau * Topeng Manora * Topeng Phra Phan * Jimat untuk perlindungan * Benda spiritual yang berkaitan dengan tradisi Khao Or

Jumlah produksinya umumnya tidak besar. Banyak di antaranya dibuat dalam jumlah terbatas, sebagian dengan keterlibatan langsung beliau bersama para murid di vihara. Karena itu, beberapa benda dari masa awal cukup sulit ditemukan di pasar kolektor.

Salah satu yang kemudian cukup dikenal adalah jimat harimau bernama Suea Non Kin. Harimau merupakan simbol yang populer dalam tradisi jimat Thailand, khususnya di kalangan guru spiritual wilayah selatan, dan dalam kepercayaan masyarakat dikaitkan dengan keberanian, kekuatan, perlindungan, serta kewibawaan.

Haman Piyon Mahamongkol 9 pun cukup identik dengan nama beliau. Dalam tradisi yang berkembang di kalangan pengikutnya, angka sembilan bermakna keberuntungan dan kesempurnaan dalam berbagai konteks budaya Thailand. Benda tersebut dipercaya berkaitan dengan perlindungan, penjagaan rumah dan usaha, kewibawaan, serta keberuntungan — kepercayaan yang berasal dari pengalaman pribadi para pemiliknya. Yang menarik, haman piyon karya beliau dikenal bukan hanya karena bentuknya, tetapi juga karena keterkaitannya dengan tradisi ilmu Khao Or yang diwariskan melalui garis gurunya.

Peran sebagai guru dan kepala vihara

Phra Ajarn Prasoot tidak hanya dikenal sebagai pembuat dan pemberi pemberkatan benda spiritual. Beliau juga dikenal sebagai bhikkhu yang menjalankan praktik meditasi dan kehidupan monastik dengan disiplin.

Sebagai kepala Wat Nai Tao, beliau berperan mengembangkan vihara dan menjaga tradisi keagamaan yang diwariskan generasi sebelumnya. Masyarakat Provinsi Trang dan sekitarnya mengenal beliau bukan hanya sebagai guru spiritual, tetapi juga sebagai tokoh agama yang dihormati, dan pengaruhnya menyebar ke berbagai daerah di Thailand selatan.

Warisan Phra Ajarn Prasoot

Bagi pengikut dan kolektor, warisan beliau tidak berhenti pada benda-benda spiritual yang dibuatnya. Yang lebih penting adalah kesinambungan tradisi: dasar ilmu diterima dari Por Than Saeng, diperluas melalui perjalanan kepada berbagai guru lain, lalu dibawa kembali ke Wat Nai Tao dan dilanjutkan sebagai kehidupan seorang bhikkhu sekaligus guru bagi masyarakat.

Karena itu nama Phra Ajarn Prasoot sering disebut dalam pembahasan mengenai guru spiritual Thailand selatan generasi modern. Bagi kolektor, setiap model memiliki cerita, tahun pembuatan, dan latar belakangnya sendiri. Sedangkan bagi umat yang datang ke Wat Nai Tao, yang paling utama tetaplah penghormatan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.